default-pattern

Risiko Dead Stock yang Sering Terabaikan Pada Toko Bangunan

dead stock toko bangunan

Dalam bisnis ritel, termasuk toko bahan bangunan, persediaan adalah aset yang menyerap modal besar. Namun ketika pengelolaannya kurang tepat, sebagian dari aset tersebut berubah menjadi beban finansial. 

Penelitian menunjukkan bahwa masalah dead stock bukan persoalan kecil. Studi internasional yang dipublikasikan dalam jurnal Sustainability (2025) menemukan bahwa 20–40% inventori di sektor ritel dan manufaktur umumnya masuk kategori non-moving atau dead stock, barang yang tidak bergerak dalam waktu lama dan menggerus profitabilitas. (MDPI)

Di Indonesia, riset pada gudang suku cadang PT Damasraya Sawit Lestari juga mengungkap skala masalah yang jauh lebih besar di beberapa industri. Menggunakan analisis FSN, studi tersebut menunjukkan bahwa kombinasi slow moving dan non-moving inventory mencapai 69,1% dari total persediaan. (Repository.poltekatipdg)

Di sektor yang memiliki kontrol persediaan ketat seperti farmasi, stok mati memang lebih kecil, namun tetap signifikan: sebuah penelitian menemukan 3,81% item obat berada dalam kondisi dead stock hanya dalam periode tiga bulan. (Media.neliti)

Temuan-temuan ini menegaskan, dead stock bukan sekadar persoalan ruang gudang. Ia mengikat modal, menekan arus kas, menambah biaya penyimpanan, dan berpotensi menurunkan margin secara bertahap tanpa disadari. Bagi pemilik toko bahan bangunan, yang biasanya memiliki ribuan SKU dengan perputaran berbeda-beda, pengendalian dead stock adalah komponen penting dalam strategi keuangan dan operasional jangka panjang.

Mengapa Toko Bangunan Rentan Dead Stock

Toko bahan bangunan punya karakteristik unik dibanding toko ritel fesyen atau sembako: variasi produk sangat luas, permintaan tidak stabil, dan tren material bisa berubah. Sejumlah penelitian lokal dan internasional membantu menjelaskan mengapa dead stock cukup sering terjadi pada bisnis seperti ini:

Kompleksitas SKU dan Permintaan Tidak Konsisten

Sebuah studi di sebuah toko besi di Indonesia menunjukkan bahwa penerapan EOQ secara tepat mampu mengurangi total biaya persediaan dibanding metode lama toko,  menunjukkan bahwa tanpa metode, risiko overstock (dan potensi dead stock) besar. (ITScience) 

Dengan banyaknya SKU,  dari semen, besi, pipa, keramik, cat, sampai perlengkapan plumbing dan setiap kategori memiliki pola permintaan berbeda, manajemen persediaan secara manual atau berdasarkan “intuisi” berisiko tinggi menyebabkan stok berlebih untuk beberapa item, dan kekurangan di item lain.

Permintaan Proyek dan Tren Material yang Fluktuatif

Toko bahan bangunan biasanya melayani proyek bangunan, renovasi rumah, atau konstruksi, dan proyek-proyek ini bisa sangat musiman dan sensitif terhadap tren. Misalnya, satu musim banyak permintaan bahan jenis tertentu, lalu tren berubah ke material lain. Bila stok lama tidak diperhatikan, bisa tertinggal dan sulit dijual.

Penelitian tentang manajemen persediaan untuk produk yang bisa memburuk (deteriorasi) menyarankan bahwa model EOQ perlu diperluas jika produk rentan rusak atau usang menandakan bahwa bahan bangunan (misalnya cat, semen, bahan kimia) memerlukan perhatian ekstra. (UIN Malang Journal)

Pencatatan Manual & Sistem Persediaan yang Kurang Sistematis

Banyak UMKM masih mengandalkan pencatatan manual atau spreadsheet sederhana. Hal ini meningkatkan risiko kesalahan pencatatan, stok ganda, atau stok “hilang” dari catatan sehingga stok nyata dan catatan tidak sinkron. Penelitian di sektor retail memperingatkan bahwa inventory yang tidak dikontrol dengan baik meningkatkan kemungkinan stok lambat atau mati. (E-Journal UIN Suska)

Dalam kondisi seperti itu, Anda mungkin “tidak tahu” bahwa sebagian stok sudah stagnan, sampai gudang penuh, modal terblokir, atau stok menjadi kotor/rusak sehingga nilainya turun.

Dampak Nyata Dead Stock terhadap Keuangan & Operasional

Masalah dead stock tidak berhenti pada gudang,  efeknya merembet ke keuangan, arus kas, efisiensi operasional, bahkan kesehatan bisnis secara keseluruhan. Berikut beberapa dampak nyata, berdasarkan penelitian dan logika akuntansi:

Modal Terkunci & Arus Kas Menurun

Inventory dianggap aset, tapi kalau stok tidak bergerak, maka aset itu “membeku”: uang sudah keluar membeli barang, tetapi belum kembali dalam bentuk penjualan  atau bahkan mungkin tidak akan kembali sama sekali. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pengendalian persediaan yang buruk dapat membebani cash flow perusahaan secara signifikan. (Jurnal STIE AAS)

Related Post  Bagaimana Mengelola Laporan Arus Kas Yayasan Pendidikan untuk Menjamin Transparansi dan Likuiditas

Modal yang terikat di stok mati berarti Anda kehilangan peluang membeli stok baru yang lebih cepat laku, menjalankan pemasaran, atau memenuhi kebutuhan operasional. Terlebih bagi UMKM dengan modal terbatas, ini bisa menjadi beban berat dan menghambat pertumbuhan.

Biaya Penyimpanan & Biaya Tersembunyi Lainnya

Barang yang disimpan lama memerlukan ruang gudang, pemeliharaan, pengawasan, dan kadang mengalami penyusutan atau kerusakan. Biaya-biaya ini sering tidak terlihat di awal, tapi bertambah seiring waktu. Dalam literatur inventory, holding cost bisa menjadi bagian signifikan dari total biaya persediaan. (Jurnal STIE Asia)

Untuk toko bahan bangunan, ini bisa berarti gudang penuh dengan stok mati, mengurangi ruang untuk stok aktif, atau menambah biaya overhead seperti listrik, penataan, dan tenaga kerja gudang.

Penurunan Nilai Barang atau Obsolescence

Beberapa bahan bangunan bisa “usang” jika tidak segera dijual,  misalnya cat dengan warna yang sudah tidak tren, keramik motif lama, atau bahan pipa dengan spesifikasi reputasi lama. Jika tidak cepat terjual, nilai barang bisa menurun. Penelitian inventory untuk barang dengan deteriorasi mengingatkan perlunya mempertimbangkan lifespan atau usia simpan dalam perhitungan stok. (UIN Malang Journal)

Hal ini berarti stok yang tadinya diperkirakan aset bisa berubah menjadi beban yang  harus di-discount besar, bahkan dibuang.

Efisiensi Operasional Menurun

Dengan gudang penuh stok mati, stok aktif sulit diatur. Proses pengambilan barang, penataan ulang, dan pengelolaan stok baru menjadi lebih rumit. Sistem manual atau semrawut bisa menyebabkan kesalahan lebih sering, ketersediaan barang lambat, dan kemacetan operasional.

Dalam jangka panjang, ini bisa mempengaruhi reputasi toko Anda,  pelanggan mungkin sering kehabisan barang, stok tidak konsisten, atau pelayanan melambat.

Sulitnya Perencanaan & Ekspansi Bisnis

Jika sebagian besar modal terikat dan stok tidak bergerak, Anda kehilangan fleksibilitas untuk mengambil peluang baru  seperti membeli stok berdasarkan tren, memperluas varian produk, atau menyiapkan stok untuk proyek besar. Keputusan ekspansi atau diversifikasi produk menjadi sulit, karena Anda tidak punya modal bebas.

Metode Untuk Mengatasi Dead Stock dengan Manajemen Persediaan Efektif

Terdapat beragam penelitian akademik di Indonesia dan internasional menunjukkan bahwa masalah dead stock dapat diminimalkan jika metode dan sistem persediaan diterapkan dengan benar. Berikut beberapa temuan penting:

  • Studi pada toko retail di Indonesia menunjukkan bahwa kombinasi metode Reorder Point (ROP), EOQ, dan Safety Stock membantu menetapkan kapan harus pesan ulang dan berapa banyak stok optimal  sehingga meminimalkan biaya persediaan tanpa risiko kehabisan stok. (Jurnal STIE Asia) 
  • Penerapan EOQ pada toko dagang (bukan manufaktur) sudah terbukti menurunkan total biaya persediaan dibanding metode tradisional atau peramalan manual. Contoh: pada sebuah toko besi di Kota Gunungsitoli, penerapan EOQ berhasil menurunkan pengeluaran persediaan tahun 2022–2023. (ITScience) 
  • Untuk bisnis kecil atau UMKM (tidak harus besar), metode EOQ tetap relevan. Sebuah penelitian di UMKM makanan ringan menunjukkan bahwa EOQ membantu menentukan jumlah pemesanan optimal dan menurunkan biaya persediaan dibanding metode konvensional. (Arimbi Ejournal) 
  • Studi “Slow Moving and Dead Stock: Some Alternative Solutions” menekankan pentingnya identifikasi barang slow-moving dan dead stock agar perusahaan bisa mengambil keputusan: diskon, bundling, retur, atau penyesuaian pemesanan. (ResearchGate
  • Model persediaan lanjutan, termasuk untuk barang dengan risiko deteriorasi seperti bahan bangunan yang kadang memiliki umur simpan atau cepat usang  telah dikembangkan sehingga perusahaan bisa menghitung lot size dan pemesanan optimal dengan memperhitungkan umur barang. (UIN Malang Journal) 

Dengan demikian, manajemen persediaan bukan hanya teori  melainkan praktik yang aplikatif dan relevan untuk toko bahan bangunan / UMKM.

Related Post  Jenis-Jenis Laporan Keuangan Perusahaan dan Fungsinya bagi Pertumbuhan Bisnis

Strategi Praktis Berdasarkan Data dan Penelitian

Dari hasil-hasil penelitian di atas, Anda bisa menerapkan beberapa strategi praktis berikut ini untuk mencegah dead stock di toko bangunan Anda:

Terapkan EOQ + ROP + Safety Stock

Metode klasik EOQ membantu menentukan berapa banyak stok yang sebaiknya Anda beli jumlah optimal di mana total biaya pemesanan dan penyimpanan paling efisien. Ditambah dengan ROP dan safety stock, Anda bisa memastikan stok datang tepat waktu dan menghindari kelebihan stok. Ini bermanfaat terutama jika Anda menangani banyak SKU atau permintaan tidak konstan.

Beberapa penelitian menegaskan bahwa kombinasi ini efektif mengurangi overstock serta menjaga keseimbangan antara stok tersedia dan biaya persediaan. (Jurnal STIE Asia)

Kategorisasi Stok: Fast, Slow, Non-moving (FSN)

Alih-alih memperlakukan semua item sama, lebih bijak untuk mengelompokkan berdasarkan perputaran:

  • Fast-moving: Barang yang cepat laku  prioritas restock reguler.
  • Slow-moving: Barang yang laku tapi jarang dibeli dalam jumlah lebih hati-hati.
  • Non-moving / berisiko dead stock: Barang yang hampir tidak laku  perlu evaluasi, apakah tetap disimpan, diskon, bundling, atau dihentikan pembeliannya.

Penelitian menyarankan analisis FSN untuk meminimalkan stok mati dan menjaga efisiensi persediaan. (ResearchGate)

Lakukan Stock Opname & Audit Persediaan Rutin

Stok yang tercatat secara akurat  dan cocok dengan kondisi fisik adalah fondasi perencanaan persediaan yang sehat. Audit rutin penting untuk menghindari kesalahan pencatatan, mendeteksi stok rusak, serta mengidentifikasi barang yang stagnan.

Bagi toko bahan bangunan, audit bisa dilakukan misalnya setiap 3–6 bulan sekali, atau sesuai siklus penjualan dan periode proyek konstruksi lokal.

Gunakan Data Historis dan Forecasting Berbasis Data

Untuk produk dengan permintaan musiman atau fluktuatif  misalnya semen, cat, keramik gunakan data historis penjualan untuk meramalkan kebutuhan masa depan. Hindari mengandalkan insting saja.

Penelitian di manufaktur dan retail menunjukkan bahwa metode berbasis data bisa jauh lebih akurat dibanding estimasi manual. (Jurnal Fakultas Pertanian UNILA)

Pisahkan Produk dengan Risiko “Deteriorasi” atau Obsolescence

Bahan bangunan seperti cat, semen, bahan kimia, pipa plastik, atau finishing bisa rentan kedaluwarsa, perubahan tren, atau spesifikasi yang berubah. Untuk produk semacam ini, perlakukan sebagai kategori khusus: lebih sering dipantau, tidak dibeli terlalu banyak, dan dijual lebih cepat  atau ditawarkan diskon lebih awal sebelum nilainya menurun. Pendekatan ini disarankan oleh penelitian pada model persediaan produk deteriorasi. (UIN Malang Journal)

Digitalisasi Pencatatan & Manajemen Persediaan

Mengingat banyaknya SKU dan variabel dalam toko bahan bangunan, pencatatan manual kurang ideal. Digitalisasi yakni dengan sistem inventory management atau software akuntansi yang mendukung stok memudahkan Anda melihat perputaran stok, meninjau stok slow-moving, menghitung biaya persediaan secara real-time, dan merencanakan pemesanan berdasarkan data.

Bahkan pada UMKM skala kecil, penerapan metode EOQ dengan sistem informasi terbukti menurunkan kesalahan stok dan meningkatkan efisiensi operasional. (Rumahjurnal)

Mengapa Mengabaikan Dead Stock Bisa Menghambat Pertumbuhan Bisnis

Seringkali, pemilik toko bangunan fokus pada penjualan  mengejar volume, menambah variasi produk, atau memperbesar gudang. Tapi jika manajemen persediaan diabaikan, beberapa konsekuensi jangka panjang bisa muncul:

  • Likuiditas melemah: Modal yang seharusnya berputar terikat di stok mati.
  • Biaya operasional membengkak: Ruang gudang penuh, tenaga kerja dan overhead tetap berjalan.
  • Kesulitan ekspansi atau diversifikasi produk: Karena modal dan ruang terbatas.
  • Risiko kehilangan peluang proyek besar: Ketika stok aktif terbatas, Anda bisa gagal memenuhi kebutuhan klien atau proyek mendadak.
  • Profitabilitas menurun atau margin tergerus: Jika stok mati dijual dengan diskon besar agar tidak menumpuk.

Dalam jangka panjang, bisnis bisa kehilangan daya saing  terutama jika pesaing lain lebih efisien dalam manajemen persediaan.

Peran Sistem Terintegrasi (Seperti Accountingplus.id) dalam Mengelola Persediaan

Berdasarkan berbagai riset, manajemen persediaan yang baik memerlukan data akurat, penghitungan sistematis, dan monitoring berkala. Di sinilah sistem terintegrasi menjadi relevan menggabungkan aspek stok, keuangan, dan operasional.

Related Post  Adopsi AI Untuk UKM Indonesia, Trend atau Keharusan?

Dengan sistem seperti Accountingplus.id, Anda dapat:

  • Melacak keluar-masuk barang secara real-time, sehingga visibilitas stok selalu up-to-date.
  • Mengidentifikasi barang fast / slow / non-moving, mendeteksi stok stagnan lebih dini.
  • Menghitung nilai persediaan berdasarkan harga beli dan kuantitas, menjaga akurasi neraca dan laporan keuangan.
  • Membantu perencanaan pembelian berdasarkan data historis dan tren, menghindari overstock.
  • Memfasilitasi stock opname dan audit gudang, dengan log transaksi dan stok tersedia.

Dengan data dan sistem yang baik, Anda dapat membuat keputusan berdasarkan fakta, bukan intuisi dan mencegah dead stock sejak awal.

Studi Kasus Singkat: Toko Besi & Retail dengan EOQ

Beberapa riset pada toko non-manufaktur memberikan gambaran nyata tentang bagaimana metode inventory yang tepat bisa menghasilkan efisiensi:

  • Pada penelitian di Toko Besi Sadarman (Gunungsitoli), penerapan EOQ tahun 2022–2023 berhasil mengurangi total biaya persediaan. Hasil ini menunjukkan bahwa metode sederhana tapi sistematis sudah cukup efektif untuk toko dagang. (ITScience)
  • Studi pada usaha kecil (UMKM makanan ringan) menunjukkan bahwa EOQ membantu mengoptimalkan jumlah bahan baku yang dibeli, mengurangi frekuensi pembelian, dan menekan biaya persediaan dibanding metode tradisional. (Arimbi Ejournal) 

Kedua contoh ini relevan bagi toko bahan bangunan: meskipun komoditas berbeda, tantangan manajemen persediaan tak jauh berbeda, yakni menghindari overstock dan menjaga likuiditas.

Rekomendasi Praktis untuk Pemilik Toko Bahan Bangunan / UMKM

Berdasarkan penelitian dan praktik terbaik, berikut rekomendasi untuk Anda yang ingin menjaga persediaan tetap sehat, modal tetap berputar, dan bisnis tetap menguntungkan:

  1. Lakukan analisis FSN secara berkala, paling tidak setiap 3–6 bulan. Tandai barang slow-moving / non-moving: evaluasi apakah tetap stok, diskon, bundling, atau hentikan pembelian.
  2. Terapkan metode EOQ + ROP + Safety Stock untuk SKU utama. Untuk SKU dengan permintaan stabil, metode ini membantu menentukan jumlah dan waktu pemesanan optimal.
  3. Pisahkan kategori barang berdasarkan tingkat risiko obsolescence, seperti cat, semen, bahan finishing dan perlakukan dengan manajemen khusus (restock lebih hati-hati, periode stok pendek, promosi rutin).
  4. Gunakan data historis penjualan untuk perencanaan, hindari membeli berdasarkan asumsi. Bila perlu, catat setiap transaksi dengan benar, termasuk frekuensi dan kuantitas.
  5. Lakukan stock opname rutin untuk memastikan catatan stok sesuai kondisi fisik, sekaligus mendeteksi kerusakan atau kehilangan barang.
  6. Pertimbangkan digitalisasi sistem stok & keuangan, apalagi jika SKU banyak, agar stok, arus kas, dan pembelian bisa dipantau secara real-time.
  7. Evaluasi stok slow-moving: kalau perlu, jalankan strategi “clearance sale”, bundling, atau diskon khusus daripada membiarkan barang menumpuk tak jelas.
  8. Gunakan hasil analisis stok dan keuangan untuk merencanakan arus kas, reinvestasi, dan ekspansi agar modal tidak terjebak di gudang.

Kesimpulan

Dead stock bukan sekadar “barang kebanyakan”, ia adalah ancaman tersembunyi yang dapat menggerogoti arus kas, menurunkan margin, dan menyulitkan operasional maupun ekspansi. Untuk toko bahan bangunan yang memiliki banyak jenis produk, variasi besar, dan permintaan tak stabil, risiko ini nyata dan besar.

Namun melalui penerapan metode manajemen persediaan berdasarkan data dan penelitian, seperti EOQ, ROP, Safety Stock, dan analisis FSN, serta dengan pendukung sistem terintegrasi seperti Accountingplus.id, Anda dapat mengendalikan risiko ini.

Dengan demikian, pengelolaan stok harus dipandang bukan sebagai “urusan gudang”, melainkan bagian dari strategi keuangan dan keberlanjutan bisnis. Ketika stok dan modal Anda dikelola dengan cermat, arus kas tetap sehat, dana tetap fleksibel, dan peluang pertumbuhan tetap terbuka. Semoga artikel ini membantu Anda memahami pentingnya manajemen persediaan yang baik dan memberi pijakan untuk tindakan nyata di toko bahan bangunan Anda.