Usaha kuliner menjadi salah satu yang paling mendominasi UMKM di Indonesia. Dari warung makan hingga kafe modern, sektor ini dikenal cepat menghasilkan perputaran uang. Namun di balik ramainya transaksi, tidak sedikit pelaku usaha kuliner yang menghadapi persoalan keuangan serius, bahkan ketika omzet sudah mendekati Rp100 juta per bulan atau lebih.
Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa lebih dari 70% UMKM belum memiliki pencatatan keuangan yang memadai, sehingga sulit mengetahui kondisi laba, arus kas, dan kesehatan usaha secara objektif.
Kondisi ini membuat banyak bisnis kuliner terlihat sibuk dan “hidup”, tetapi sebenarnya rapuh dari sisi finansial. Masalah-masalah keuangan sering tidak muncul secara dramatis, melainkan bocor perlahan hingga akhirnya terasa saat usaha stagnan atau kekurangan kas.
Masalah 1: Omzet Besar, Tapi Laba Tidak Pernah Jelas
Masalah paling umum di usaha kuliner adalah ketidakjelasan laba bersih. Banyak pemilik usaha hanya melihat total penjualan harian tanpa benar-benar mengetahui berapa keuntungan yang tersisa setelah semua biaya dihitung.
Penelitian di sektor UMKM menunjukkan bahwa biaya tidak tercatat seperti bahan terbuang, diskon, dan pengeluaran kecil harian dapat mencapai 10–20% dari total pendapatan, terutama pada usaha makanan dan minuman. (Journal Unesa)
Tanpa software akuntansi, biaya-biaya ini sering luput dari pencatatan. Akibatnya, pemilik usaha merasa untung, padahal margin sebenarnya jauh lebih tipis dari yang dibayangkan. Software akuntansi membantu mencatat seluruh transaksi secara sistematis sehingga laba dapat dipantau secara realistis, bahkan harian.
Masalah 2: Arus Kas Tidak Pernah Terasa Aman
Masalah kedua yang sering muncul adalah arus kas yang tidak stabil. Penjualan terlihat tinggi, tetapi kas sering terasa habis lebih cepat dari perkiraan. Ini biasanya terjadi karena tidak adanya pemantauan arus masuk dan keluar uang secara terstruktur.
Dalam praktiknya, banyak usaha kuliner mencampur kas usaha dengan keuangan pribadi. Tanpa laporan arus kas yang jelas, sulit membedakan apakah bisnis sebenarnya menghasilkan uang atau hanya “berputar” tanpa surplus.
Penelitian akademik menunjukkan bahwa UMKM yang tidak memiliki laporan arus kas berisiko lebih tinggi mengalami masalah likuiditas, meskipun secara omzet terlihat baik. (Jurnal Al-Matani)
Dengan software akuntansi, arus kas dapat dipantau secara real-time, sehingga pemilik usaha mengetahui posisi keuangan bisnis setiap saat, bukan hanya berdasarkan saldo di laci kas.
Masalah 3: Stok dan Biaya Bahan Baku Sulit Dikendalikan
Dalam usaha kuliner, stok bahan baku merupakan komponen biaya terbesar. Fluktuasi harga, bahan rusak, dan pemakaian yang tidak terkontrol sering menjadi sumber kebocoran laba.
Tanpa pencatatan yang rapi, pemilik usaha hanya mengandalkan perkiraan dapur. Padahal penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan stok yang buruk dapat menggerus laba restoran hingga 15% per bulan, terutama pada usaha dengan volume produksi tinggi.
Software akuntansi membantu menghubungkan pembelian bahan baku dengan biaya operasional, sehingga pemilik usaha dapat melihat apakah peningkatan penjualan benar-benar sejalan dengan efisiensi biaya.
Masalah 4: Laporan Keuangan Selalu Tertunda atau Tidak Siap
Banyak pelaku usaha kuliner hanya menyusun laporan keuangan ketika dibutuhkan, misalnya saat mengajukan pinjaman atau bekerja sama dengan investor. Akibatnya, laporan sering dibuat tergesa-gesa dan kurang akurat.
Padahal, laporan keuangan yang konsisten sangat penting untuk menilai kinerja usaha dari waktu ke waktu. Bank dan lembaga keuangan umumnya mensyaratkan laporan keuangan minimal 6–12 bulan sebagai dasar analisis kelayakan kredit.
Dengan software akuntansi, laporan laba rugi, neraca, dan arus kas dapat dihasilkan otomatis dan siap digunakan kapan saja.
Masalah 5: Keputusan Bisnis Berdasarkan Perasaan, Bukan Data
Masalah terakhir yang sering tidak disadari adalah pengambilan keputusan yang terlalu mengandalkan intuisi. Kenaikan harga menu, penambahan karyawan, atau pembukaan cabang baru sering dilakukan tanpa analisis keuangan yang matang.
Dalam kajian Harvard Business Review, bisnis yang menggunakan data keuangan secara konsisten terbukti memiliki kinerja yang lebih stabil dan produktivitas lebih tinggi dibanding bisnis yang tidak berbasis data.
Software akuntansi membantu mengubah data transaksi menjadi informasi strategis, sehingga setiap keputusan didukung angka yang jelas, bukan sekadar feeling.
Mengapa Software Akuntansi Menjadi Kebutuhan, Bukan Sekadar Alat Bantu
Ketika usaha kuliner masih kecil, pencatatan sederhana mungkin terasa cukup. Namun saat omzet mendekati Rp100 juta per bulan atau lebih, kompleksitas bisnis meningkat drastis. Risiko kesalahan manual, kebocoran biaya, dan keputusan yang keliru ikut membesar.
Software akuntansi memungkinkan UMKM kuliner:
- Mengontrol keuangan secara menyeluruh
- Memantau performa bisnis secara real-time
- Menyusun laporan keuangan yang kredibel
- Menyiapkan usaha untuk ekspansi berkelanjutan
Digitalisasi UMKM yang didorong pemerintah juga menekankan pentingnya manajemen keuangan modern. Kementerian Koperasi dan UKM mencatat bahwa UMKM yang mengadopsi digitalisasi secara menyeluruh mengalami peningkatan kinerja usaha hingga 26%.
Accountingplus.id: Pendamping Keuangan untuk Usaha Kuliner Bertumbuh
Dalam menghadapi lima masalah keuangan di atas, UMKM kuliner membutuhkan solusi yang praktis dan relevan. Accountingplus.id hadir untuk membantu pelaku usaha mencatat transaksi, memantau kas, dan menyusun laporan keuangan tanpa kompleksitas berlebihan.
Dengan sistem yang mudah digunakan, Accountingplus.id membantu pemilik usaha kuliner memahami kondisi bisnis secara menyeluruh, mulai dari laba, biaya, hingga arus kas, sehingga pengelolaan keuangan tidak lagi menjadi beban, melainkan alat kontrol yang efektif.
Kesimpulan: Masalah Keuangan Bisa Dikendalikan dengan Sistem yang Tepat
Usaha kuliner dengan omzet tinggi bukan berarti bebas masalah. Justru pada fase ini, lima masalah keuangan, laba tidak jelas, arus kas bocor, stok tidak terkendali, laporan keuangan tertunda, dan keputusan berbasis intuisi, sering muncul bersamaan. Software akuntansi membantu menyelesaikan masalah-masalah tersebut secara sistematis dan berkelanjutan. Bagi UMKM kuliner yang ingin naik kelas dan bertahan dalam persaingan, penggunaan software akuntansi bukan lagi pilihan tambahan, melainkan fondasi penting untuk pertumbuhan bisnis yang sehat.



