default-pattern

Cara Membuat Laporan Keuangan untuk Usaha Peternakan & Contoh

Cara Membuat Laporan Keuangan untuk Usaha Peternakan & Contoh

Usaha peternakan skala kecil dan menengah terus berkembang. Berdasarkan data BPS, jumlah perusahaan peternakan besar dan kecil di Indonesia mencapai 227 unit pada 2024, melonjak 132% dibandingkan 2021. Sementara itu, menurut data Kementerian Koperasi dan UKM (2024), UMKM secara keseluruhan menyumbang 61% PDB nasional setara Rp9.580 triliun, dan sektor peternakan rakyat menjadi salah satu kontributornya.

Namun di balik angka yang menjanjikan itu, mayoritas peternak UMKM masih mengelola keuangan secara informal. Tidak ada catatan penjualan yang teratur, tidak ada pemisahan uang usaha dengan uang pribadi, dan tidak ada laporan yang bisa ditunjukkan ke bank saat ingin mengajukan modal.

Mengapa Usaha Peternakan Wajib Punya Laporan Keuangan?

Laporan keuangan bukan hanya urusan akuntan. Bagi peternak, laporan keuangan adalah alat untuk memahami kondisi usaha secara nyata. Berikut fungsi utamanya:

  • Mengetahui apakah usaha benar-benar untung setelah dipotong biaya pakan, obat, dan kandang
  • Menjadi syarat wajib pengajuan KUR Khusus Peternakan dari perbankan
  • Membantu memutuskan kapan harus menambah populasi ternak atau justru mengurangi
  • Memisahkan keuangan usaha dari pengeluaran rumah tangga
  • Menjadi dasar perhitungan pajak UMKM yang akurat

Komponen Utama Laporan Keuangan Usaha Peternakan

Untuk usaha peternakan UMKM, ada tiga laporan keuangan yang wajib dibuat setiap bulan atau minimal setiap kuartal:

1. Laporan Laba Rugi

Laporan ini menjawab satu pertanyaan mendasar: berapa keuntungan bersih usaha peternakan Anda bulan ini? Laba rugi mencatat semua pendapatan (penjualan ternak, telur, susu) dikurangi seluruh biaya (bibit, pakan, obat, upah kandang, penyusutan).

Rumus dasar:

Pendapatan Usaha  −  Harga Pokok Produksi  −  Beban Operasional  =  Laba/Rugi Bersih

2. Neraca (Balance Sheet)

Neraca menunjukkan posisi keuangan usaha pada satu titik waktu, mencakup semua aset yang dimiliki (kandang, ternak, kas) dan semua kewajiban (utang pakan ke supplier, KUR bank). Dalam usaha peternakan, stok ternak hidup dicatat sebagai aset lancar.

Related Post  Bagaimana Cara Menghindari Kesalahan Laporan Keuangan di Toko Bangunan Omzet Besar?
Rumus Neraca:  Aset  =  Liabilitas  +  Modal

3. Laporan Arus Kas

Arus kas mencatat keluar-masuknya uang tunai setiap hari. Usaha peternakan rentan terhadap masalah likuiditas, ternak belum siap jual, tapi tagihan pakan sudah jatuh tempo. Dengan laporan arus kas, masalah ini bisa diantisipasi lebih awal.

Langkah – Langkah Cara Membuat Laporan Keuangan Peternakan

Berikut alur kerja yang bisa langsung diterapkan, mulai dari pencatatan harian hingga penyusunan laporan:

  1. Catat semua transaksi harian: Setiap pembelian pakan, penjualan ternak, atau pembayaran upah dicatat di jurnal harian. Gunakan format: tanggal | keterangan | debit | kredit.
  2. Pisahkan akun sesuai kategori peternakan: Buat akun khusus: Pendapatan Penjualan Ternak, HPP Pakan, Biaya Obat & Vaksin, Biaya Kandang, Aset Ternak.
  3. Rekap ke buku besar: Kumpulkan semua transaksi per kategori akun untuk melihat total masing-masing pos.
  4. Susun neraca saldo: Pastikan total debit = total kredit sebelum membuat laporan formal.
  5. Buat laporan laba rugi: Gunakan data akun pendapatan dan beban dari neraca saldo.
  6. Susun neraca dan laporan arus kas: Selesaikan siklus dengan neraca posisi keuangan dan arus kas aktual.

Contoh Laporan Laba Rugi Usaha Peternakan (Per Bulan)

Berikut contoh laporan laba rugi sederhana untuk usaha peternakan ayam potong skala UMKM dengan kapasitas 2.000 ekor per siklus:

Dari contoh di atas, terlihat bahwa meski pendapatan mencapai Rp33 juta, laba bersihnya Rp10,6 juta setelah dikurangi biaya produksi dan operasional. Tanpa laporan seperti ini, peternak sering kali merasa “tidak ada uang” padahal usahanya sebenarnya menguntungkan.

Contoh Neraca Usaha Peternakan

Berikut contoh neraca sederhana untuk usaha peternakan sapi potong skala kecil:

Catatan penting: Stok ternak hidup dicatat sebagai aset lancar karena dapat dijual dalam waktu dekat. Nilai ternak perlu disesuaikan setiap bulan mengikuti berat badan atau pertumbuhan populasi.

Related Post  6 Hal Wajib Diketahui Sebelum Investasi Aplikasi Pencatat Keuangan untuk F&B

Akun – Akun Khusus yang Ada di Laporan Keuangan Peternakan

Usaha peternakan memiliki beberapa akun unik yang tidak ditemukan di bisnis lain. Pastikan akun berikut tercantum dalam sistem pembukuan Anda:

  • Aset Ternak Hidup: Nilai ternak yang sedang dipelihara, dihitung berdasarkan harga perolehan + biaya pembesaran
  • Harga Pokok Produksi (HPP): Mencakup bibit/DOC/bakalan, pakan, obat dan vaksin, upah kandang
  • Penyusutan Kandang & Peralatan: Kandang, mesin pakan, tempat minum didepresiasi sesuai umur ekonomisnya
  • Piutang Pengepul: Jika ternak dijual ke pengepul dengan pembayaran tempo
  • Pendapatan Sampingan: Kotoran ternak (pupuk), biogas, atau produk turunan lainnya

Kesimpulan

Cara membuat laporan keuangan untuk usaha peternakan tidak harus dimulai dari sistem yang kompleks. Yang terpenting adalah konsistensi mencatat setiap transaksi, penjualan ternak, pembelian pakan, biaya kandang sejak hari pertama. Dari pencatatan sederhana itu, laporan laba rugi, neraca, dan arus kas bisa disusun secara bertahap.

Dengan laporan keuangan yang tertata, peternak UMKM tidak hanya mendapat gambaran jelas tentang kondisi usahanya, tetapi juga membuka akses yang lebih luas ke permodalan, kemitraan, dan program pemerintah seperti KUR Khusus Peternakan.

Baca Juga: Cara Mengelola Keuangan Bisnis untuk Peternakan Ayam