
Pada tahun 2023, jumlah pelaku UMKM di Indonesia mencapai sekitar 66 juta unit usaha, atau hampir 99 % – 100 % dari total unit usaha di tanah air. (Detik 60). Sektor ini bisa dikatakan menjadi tulang punggung ekonomi nasional: UMKM menyumbang sekitar 61 % dari Produk Domestik Bruto (PDB), serta mampu menyerap hingga 97–98 % tenaga kerja nasional. (DJPB Kemenkeu)
Namun di balik angka “gemilang” tersebut, banyak pelaku UMKM menghadapi kenyataan pahit: omzet bisa tinggi, penjualan lancar, namun margin keuntungan tetap tipis. Bahkan ketika bisnis terlihat “jalan”, tak jarang keuntungan nyaris habis untuk menutup biaya. Data dari survei terhadap UMKM yang mengajukan pembiayaan menunjukkan bahwa rata-rata gross profit margin bisa berada di kisaran 35,3 %. (Universitas Bengkulu E-Journal)
Fenomena itu makin diperparah oleh fakta bahwa banyak UMKM belum memiliki sistem pencatatan biaya dan harga pokok produksi (HPP) yang memadai. Ketika biaya langsung, biaya overhead, distribusi, kemasan, hingga distribusi tidak tercatat dengan baik, perhitungan HPP bisa meleset jauh dari realitas.
Akibatnya, meskipun omzet terlihat sehat, bisnis bisa “berjalan di tempat” atau bahkan merugi karena margin sesungguhnya terlalu tipis.
Menurut survei global terhadap small business, rata-rata margin laba bersih (net profit margin) yang sehat untuk usaha kecil berada di kisaran 5%–10%, sementara margin bersih di bawah 5% sudah tergolong “rentan” terhadap ketidakstabilan finansial. (Fiskl)
Realitas ini terasa nyata, terutama bagi bisnis dengan model ritel, makanan/minuman, atau manufaktur kecil, sektor-sektor yang secara umum memiliki biaya overhead, persediaan, distribusi, dan variabel lain yang bisa sangat fluktuatif. Untuk sebagian sektor, terutama ritel dan restoran, margin bersih rata-rata hanya sekitar 2%–6%, membuat toleransi kesalahan dalam perhitungan biaya sangat kecil. (DAS Solutions)
Di Indonesia sendiri, data dari studi terhadap pelaku UMKM yang mengajukan pembiayaan menunjukkan bahwa rata-rata gross profit margin (GPM) berada pada angka ± 35,3%, artinya, dari setiap Rp 1.000 pendapatan, sekitar Rp 353 diperkirakan menjadi laba kotor sebelum biaya overhead atau operasional lainnya diperhitungkan. (Universitas Bengkulu E-Journal).
Mengapa HPP Penting untuk Margin & Profitabilitas
HPP atau COGS (Cost of Goods Sold) adalah keseluruhan biaya langsung yang dikeluarkan untuk menghasilkan barang/jasa yang dijual: bahan baku, tenaga kerja langsung, dan biaya produksi langsung atau pembelian barang (jika usaha dagang).
Sementara itu, margin kotor (gross profit margin) dihitung sebagai persentase selisih antara pendapatan dari penjualan dan HPP terhadap total penjualan. Dengan kata lain: dari setiap Rp 1 penjualan, berapa rupiah yang tersisa setelah menutup biaya produksi langsung.
HPP menjadi dasar bagi hampir semua keputusan keuangan: penetapan harga jual, evaluasi efisiensi produksi, pengelolaan persediaan, hingga perencanaan keuangan jangka panjang. Jika HPP tidak dihitung dengan benar, maka seluruh rancangan harga dan strategi keuntungan bisa meleset jauh. (Journal STIE MCE)
Mengapa Banyak Bisnis dengan Omzet Lumayan Tapi Margin Tetap Tipis
Tidak sedikit pemilik usaha yang heran: “Kenapa omzet sudah naik, tapi laba bersih tetap kecil?” Ternyata penyebabnya sering ada di HPP atau lebih tepatnya cara perhitungannya. Beberapa pola kesalahan umum:
Pertama, banyak pelaku usaha hanya menghitung biaya bahan baku dan tenaga langsung saja, tanpa memasukkan biaya overhead (seperti listrik, sewa, penyusutan alat, distribusi, packaging, tenaga penunjang) dalam perhitungan HPP. Di lapangan, biaya overhead ini bisa signifikan dan sering menjadi penyebab terbesar erosi margin. (Jurnal UMSU)
Kedua, pencatatan keuangan yang tidak rapi dan sistematis. Banyak UMKM masih mengandalkan catatan manual atau bahkan tidak mendokumentasikan biaya kecil seperti ongkos kirim, kemasan, biaya distribusi sehingga sulit menghitung HPP secara akurat per unit. (Jurnal UMSU)
Ketiga, menetapkan harga jual berdasarkan insting atau harga pasar tanpa terlebih dulu menghitung HPP secara komprehensif. Pendekatan ini terasa praktis, tapi rentan menyebabkan harga jual terlalu rendah sehingga margin seakan tipis atau bahkan negatif. (E-Journal UPI)
Keempat, ketidakmampuan mengadaptasi perubahan biaya, misalnya saat harga bahan baku naik, atau biaya listrik/transport meningkat. Jika HPP dan harga jual tidak diperbarui secara berkala, margin otomatis tergerus. (Jurnal UMSU)
Kelima, pencampuran biaya yang tidak seharusnya masuk ke HPP, misalnya biaya distribusi ke pelanggan, biaya promosi, atau biaya pemasaran jarang dibedakan secara benar. Ini bisa membuat perhitungan HPP jadi bias, dan margin menjadi sulit dievaluasi dengan tepat.
Hasilnya, meskipun omzet tampak sehat, banyak UMKM atau bisnis kecil tidak benar-benar “cuan” karena margin kotor dan margin bersih mereka terlalu kecil atau tergerus biaya tersembunyi.
Temuan Penelitian & Praktik: Bukti Bahwa Kesalahan HPP Menyebabkan Margin Tipis
Beberapa studi terkini dari kalangan akademik menunjukkan bahwa perhitungan HPP yang tidak tepat terus menjadi persoalan di kalangan UMKM Indonesia. Salah satu penelitian di Surakarta menemukan bahwa banyak UMKM hanya menghitung biaya bahan baku dan tenaga langsung, sedangkan biaya overhead seperti listrik, sewa tempat, penyusutan alat, distribusi dan lainnya sering terabaikan. Akibatnya, harga jual yang ditetapkan tidak mencerminkan biaya aktual, dan profitabilitas cenderung rendah. (Jurnal UMSU)
Studi lain menyebut bahwa praktik pencatatan biaya yang sederhana dan tidak detail menyebabkan ketidakmampuan dalam menghitung laba secara benar, sehingga pelaku usaha sulit menilai apakah mereka benar-benar mendapat keuntungan. (Journal STIE MCE)
Dengan metode perhitungan HPP dan harga jual yang tepat, misalnya menggunakan pendekatan “full costing” (di mana seluruh biaya langsung dan overhead dihitung), bisnis dapat menyesuaikan harga jual agar sesuai dengan realitas biaya produksi. Metode ini secara konsisten disarankan sebagai praktik terbaik bagi UMKM agar margin tidak terkikis. (Jurnal UMSU)
Artinya: margin tipis bukan semata karena persaingan ketat atau pasar sulit bisa jadi akar masalah ada di dalam cara kita menghitung biaya dan harga jual.
Strategi: Memperbaiki Perhitungan HPP Agar Margin Sehat
Guna keluar dari masalah margin tipis, ada beberapa langkah strategis yang bisa Anda ambil untuk memperbaiki perhitungan HPP dan menentukan harga jual dengan lebih tepat:
- Pastikan semua komponen biaya dihitung, bukan hanya bahan baku dan tenaga langsung, tetapi juga biaya overhead seperti listrik, sewa, penyusutan alat, kemasan, distribusi, biaya penunjang. Tanpa ini, HPP per unit akan undervalued dan margin bisa ilusif.
- Gunakan metode yang sistematis, banyak literatur menyarankan metode “full costing” bagi usaha produksi/jasa, agar semua biaya tercakup. Dengan demikian, harga jual mencerminkan biaya riil ditambah margin. (Jurnal UMSU)
- Lakukan pencatatan dan pencatatan biaya secara disiplin, catat setiap pengeluaran, sekecil apapun. Paket kemasan, bahan habis pakai, distribusi, maintenance alat, pembelian kecil, semua bisa menumpuk jika diabaikan.
- Revisi harga jual secara rutin ketika ada perubahan biaya, fluktuasi harga bahan baku, listrik, transportasi, inflasi, bisa mempengaruhi HPP. Jika Anda tidak adjust harga jual, margin otomatis menyempit.
- Analisis produk/layanan mana yang benar-benar menguntungkan, jika ada produk dengan HPP tinggi dan margin rendah, pertimbangkan untuk mengevaluasi kembali: bisa dengan menaikkan harga, mencari efisiensi, atau mengurangi portofolio produk tersebut.
Dengan menerapkan strategi ini, Anda bisa menjawab pertanyaan kunci: “Apakah usaha ini benar-benar menghasilkan untung?” bukan hanya “Apakah omzet sudah besar?”
Peluang Lebih Besar: Strategi Pricing Berbasis Nilai Membuka Jalan Margin Lebih Tinggi
Perhitungan HPP dan cost-plus pricing (markup atas biaya) adalah fondasi penting. Namun, dalam banyak kasus, terutama jika produk/jasa Anda memiliki nilai lebih, misalnya kualitas, brand, keunikan, pelayanan, Anda bisa menerapkan strategi pricing berbasis nilai (value-based pricing). Konsep ini sudah lama dibahas oleh komunitas manajemen global, termasuk di Harvard Business Review. (Harvard Business Review)
Dengan value-based pricing, Anda menetapkan harga berdasarkan seberapa besar nilai yang dirasakan pelanggan, bukan hanya berdasarkan biaya produksi. Bila pelanggan menghargai keunikan, kualitas, layanan, atau reputasi, mereka cenderung mau membayar lebih. Ini memungkinkan margin yang lebih tinggi tanpa harus menekan biaya secara ekstrem .(Harvard Business School Online)
Tentu, ini memerlukan pemahaman terhadap segmen pasar Anda: apa yang mereka nilai, seberapa besar mereka bersedia membayar, dan bagaimana brand/persepsi Anda di mata mereka. Jika dilakukan dengan tepat, strategi ini bisa mengubah margin tipis menjadi margin sehat, sekaligus menjaga daya saing bisnis Anda.
Cara Menghintung HPP (Harga Pokok Penjualan)
1. Rumus Dasar Harga Pokok Penjualan (HPP)
Rumus standar HPP dalam akuntansi:
HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih – Persediaan Akhir
Dengan keterangan:
- Persediaan Awal: nilai stok barang di awal periode.
- Pembelian Bersih = Total Pembelian – Retur Pembelian – Diskon Pembelian + Biaya Angkut Pembelian.
- Persediaan Akhir: nilai stok barang yang tersisa di akhir periode.
2. Rumus HPP untuk Bisnis Produksi (UMKM yang memproduksi barang sendiri)
Jika Anda memproduksi sendiri, gunakan:
HPP = Bahan Baku + Tenaga Kerja Langsung + Overhead Pabrik
Keterangan:
- Bahan Baku: semua material yang digunakan.
- Tenaga Kerja Langsung: upah pekerja yang terlibat langsung dalam proses produksi.
- Overhead: listrik, gas, penyusutan alat, biaya sewa, kemasan, dll.
3. Contoh Perhitungan HPP (Bisnis Dagang)
Misalkan Anda memiliki toko kue kering.
Data:
- Persediaan awal: Rp 5.000.000
- Pembelian bahan selama periode: Rp 12.000.000
- Retur pembelian: Rp 1.000.000
- Biaya ongkir bahan: Rp 500.000
- Persediaan akhir: Rp 4.000.000
Hitung Pembelian Bersih
Pembelian Bersih = 12.000.000 – 1.000.000 + 500.000
Pembelian Bersih = Rp 11.500.000
Hitung HPP
HPP = 5.000.000 + 11.500.000 – 4.000.000
HPP = Rp 12.500.000
4. Contoh Perhitungan HPP (Bisnis Produksi / UMKM Kuliner)
Misalkan Anda memproduksi 1.000 botol minuman herbal.
Data Biaya Produksi
Bahan baku (per batch produksi):
- Jahe: Rp 2.000.000
- Gula: Rp 1.000.000
- Botol + tutup: Rp 2.500.000
- Label + kemasan: Rp 1.000.000
Total bahan baku = Rp 6.500.000
Tenaga kerja langsung:
- 2 karyawan @Rp 150.000 per hari × 5 hari = Rp 1.500.000
Overhead produksi:
- Gas: Rp 300.000
- Listrik: Rp 450.000
- Penyusutan alat: Rp 250.000
Total overhead = Rp 1.000.000
Hitung HPP
- HPP = 6.500.000 + 1.500.000 + 1.000.000
- Maka HPP = Rp 9.000.000
HPP per unit
- HPP unit = 9.000.000 / 1.000 botol
- Sehingga HPP per botol = Rp 9.000
5. Contoh Perhitungan HPP untuk Bisnis Kuliner Ready-to-Eat (per porsi)
Misalkan Anda menjual ayam geprek.
Data Bahan per 1 porsi
- Ayam + bumbu: Rp 12.000
- Tepung + minyak: Rp 3.000
- Nasi: Rp 4.000
- Kemasan: Rp 2.000
Total bahan: Rp 21.000
Biaya Produksi per Porsi
- Tenaga kerja (dialokasikan): Rp 2.500
- Overhead dapur (listrik, gas, penyusutan): Rp 1.500
HPP per porsi
HPP = 21.000 + 2.500 + 1.500
HPP per porsi = Rp 25.000
Banyak UMKM Terjebak “Harga Asal Jual”
Dalam survei dan penelitian terbaru terhadap pelaku UMKM di Indonesia, ditemukan bahwa sebagian besar, terutama usaha produksi kecil, menetapkan harga jual hanya berdasarkan bahan baku dan tenaga langsung, tanpa mempertimbangkan overhead dan biaya operasional lainnya. Hal ini membuat harga jual sering kali terlalu rendah untuk menutup biaya sesungguhnya. (Jurnal UMSU)
Misalnya, pada kasus penelitian di Surakarta: tanpa perhitungan HPP yang akurat, banyak pemilik usaha mengira mereka mendapat untung. Namun setelah dihitung dengan metode full costing, ternyata margin terlalu tipis atau bahkan negatif, mereka hanya “laku” tanpa benar-benar cuan. (Jurnal UMSU)
Penelitian juga menyebut bahwa ketidakteraturan pencatatan dan kurangnya literasi akuntansi menjadi penyebab utama. Banyak pelaku usaha merasa pencatatan keuangan “ribet” atau tidak terlalu penting, padahal ini adalah fondasi agar bisnis bisa bertahan dan berkembang. (Jurnal Politeknik Kebumen)
Dengan demikian, margin tipis bukan sekadar masalah eksternal (kompetisi, pasar, inflasi), tetapi sering berasal dari dalam dari cara kita menghitung dan mengelola biaya serta harga jual.
Bagaimana Sebuah Solusi dan Kenapa Anda Perlu Alat yang Tepat seperti Accountingplus.id
Untuk usaha kecil atau UMKM yang beroperasi padat aktivitas, pencatatan manual bisa menjadi beban. Di sinilah pentingnya memiliki alat bantu: sistem yang membantu Anda mencatat setiap biaya, bahan, tenaga, overhead, distribusi, kemasan, hingga biaya kecil, secara otomatis dan sistematis.
Sistem seperti Accountingplus.id mampu membantu pelaku usaha mencatat pengeluaran secara detail, menghitung HPP per produk, dan menghasilkan laporan laba rugi lengkap. Dengan demikian Anda bisa:
- Menetapkan harga jual berdasarkan biaya riil + margin sehat
- Memonitor margin per produk atau per periode
- Mengidentifikasi produk dengan margin rendah atau negatif, lalu membuat keputusan strategis (misalnya menghentikan produk, revise harga, efisiensi biaya)
- Menghindari perang harga yang merugikan hanya demi volume
Dengan data dan angka yang akurat, Anda bisa membuat keputusan bisnis berdasarkan realitas, bukan perkiraan atau asumsi semata.
Kesimpulan: Margin Tipis Tanda Bahaya Pada Perhitungan
Bagi banyak UMKM dan pelaku bisnis kecil menengah, margin tipis sering dianggap sebagai hal wajar, bagian dari dinamika pasar dan persaingan. Namun kenyataannya, banyak margin tipis muncul bukan karena kompetisi, melainkan karena akar masalah internal: perhitungan HPP yang keliru, pencatatan biaya tidak tuntas, atau penetapan harga jual berdasarkan intuisi semata.
Dengan memahami dan menerapkan perhitungan HPP yang benar, mencakup semua biaya produksi dan overhead, serta mempertimbangkan strategi harga yang sesuai (cost-plus atau value-based pricing), Anda bisa mengubah margin tipis menjadi margin sehat. Dan dengan dukungan sistem pencatatan keuangan seperti Accountingplus.id, Anda tidak perlu lagi repot menghitung manual, cukup fokus ke pengembangan produk, pemasaran, dan pertumbuhan usaha.



