Apa Itu ROI (Return on Investment)?
ROI (Return on Investment) adalah rasio keuangan yang mengukur seberapa besar keuntungan yang dihasilkan dibandingkan dengan biaya investasi yang dikeluarkan, dinyatakan dalam bentuk persentase. Semakin tinggi angka ROI, semakin efisien investasi tersebut dalam menghasilkan laba.
Konsep ini berlaku untuk berbagai jenis investasi bisnis: pembelian mesin produksi, pembukaan cabang baru, kampanye pemasaran, hingga investasi digitalisasi seperti software akuntansi atau kasir online. Memahami cara menghitung ROI membantu Anda memprioritaskan penggunaan modal yang terbatas pada proyek yang benar-benar memberi hasil.
Rumus dan Cara Menghitung ROI Bisnis
Rumus Dasar ROI
Secara umum, cara menghitung ROI menggunakan rumus berikut:
ROI = (Laba Bersih dari Investasi ÷ Biaya Investasi) × 100%
Beberapa referensi juga menuliskannya sebagai:
ROI = [(Nilai Akhir Investasi − Nilai Investasi Awal) ÷ Nilai Investasi Awal] × 100%
Kedua rumus ini pada dasarnya sama, yang membedakan hanya konteks penggunaannya. Rumus pertama lebih umum dipakai untuk mengevaluasi proyek atau pembelian aset dalam bisnis, sedangkan rumus kedua lebih sering dipakai untuk investasi saham atau aset yang nilainya berubah dari waktu ke waktu. Pilih rumus yang sesuai dengan jenis keputusan investasi yang sedang Anda evaluasi agar hasil cara menghitung ROI Anda relevan dengan kebutuhan bisnis.
Contoh Perhitungan ROI Langkah demi Langkah
Misalkan sebuah UMKM konveksi dengan omzet Rp300 juta per bulan membeli mesin jahit otomatis seharga Rp150.000.000. Setelah mesin beroperasi selama satu tahun, mesin tersebut berhasil menambah laba bersih sebesar Rp45.000.000 per tahun, berasal dari efisiensi tenaga kerja dan peningkatan kapasitas produksi. Berikut langkah cara menghitung ROI-nya:
- Tentukan biaya investasi: Rp150.000.000 (harga mesin, termasuk instalasi).
- Tentukan laba bersih tambahan dari investasi tersebut selama satu tahun: Rp45.000.000.
- Masukkan ke rumus: ROI = (45.000.000 ÷ 150.000.000) × 100%.
- Hasil ROI = 30% per tahun.
- Hitung juga payback period (waktu balik modal): Biaya Investasi ÷ Laba Tahunan = 150.000.000 ÷ 45.000.000 ≈ 3,3 tahun.
Artinya, setiap Rp1 yang diinvestasikan pada mesin tersebut menghasilkan tambahan laba Rp0,30 per tahun, dan modal akan kembali penuh dalam waktu sekitar 3 tahun 4 bulan. Anda bisa membandingkan hasil ini dengan pembahasan lebih lengkap soal analisis rasio keuangan pada artikel Analisis Keuangan Perusahaan: Metode, Rasio, dan Contohnya di blog Accounting+.
Cara Menginterpretasikan Hasil ROI
Setelah memahami cara menghitung ROI, langkah berikutnya adalah membaca hasilnya dengan tepat. Angka ROI saja tidak banyak berarti tanpa konteks. Berikut panduan umum interpretasinya:
- ROI positif berarti investasi menghasilkan keuntungan bersih, meski besarannya perlu dibandingkan dengan biaya modal atau bunga pinjaman yang digunakan.
- ROI negatif berarti investasi merugi dan perlu dievaluasi ulang, baik dari sisi eksekusi maupun asumsi awal proyeksinya.
- ROI di atas 20–30% per tahun umumnya dianggap cukup sehat untuk investasi operasional UMKM, meski standar ini bervariasi tergantung sektor usaha.
- ROI yang sangat tinggi (di atas 100%) perlu diverifikasi ulang datanya, bisa jadi ada biaya tersembunyi yang belum dihitung, seperti biaya perawatan atau penyusutan aset.
Selain ROI, pertimbangkan juga payback period dan risiko operasional. Investasi dengan ROI tinggi namun payback period sangat panjang bisa berisiko bagi arus kas UMKM yang modalnya terbatas.
Kapan Sebaiknya Menghitung ROI dalam Bisnis?
Beberapa momen paling umum di mana pelaku usaha perlu menerapkan cara menghitung ROI sebelum mengambil keputusan:
- Sebelum membeli mesin, kendaraan operasional, atau peralatan produksi baru.
- Sebelum membuka cabang atau gerai baru di lokasi berbeda.
- Saat mengevaluasi efektivitas kampanye marketing atau iklan digital.
- Saat mempertimbangkan investasi teknologi, seperti software akuntansi atau sistem kasir digital.
- Saat membandingkan beberapa opsi investasi dengan anggaran yang terbatas.
Perbedaan ROI vs ROA vs ROE
Setelah menguasai cara menghitung ROI, penting juga membedakannya dari rasio profitabilitas lain seperti ROA (Return on Assets) dan ROE (Return on Equity). Ketiganya sama-sama mengukur “return”, namun cakupannya berbeda:

Sederhananya, ROI cocok untuk mengevaluasi satu keputusan investasi spesifik, sementara ROA dan ROE lebih tepat untuk menilai kinerja keuangan perusahaan secara keseluruhan. Pembahasan lengkap rasio-rasio ini bisa Anda simak pada artikel 7 Rasio Keuangan Terpenting yang Wajib Dianalisis Sebelum Membuat Keputusan Bisnis di Accounting+.
Kesalahan saat Menghitung ROI
Meski rumusnya sederhana, praktik cara menghitung ROI di lapangan sering meleset karena kesalahan berikut:
- Hanya menghitung pendapatan tambahan tanpa mengurangi biaya operasional yang timbul dari investasi tersebut.
- Melupakan biaya tersembunyi seperti perawatan, penyusutan aset, atau pelatihan karyawan.
- Membandingkan ROI antar-investasi dengan periode waktu yang berbeda tanpa menyetarakannya menjadi basis tahunan.
- Tidak mendokumentasikan data laba dan biaya secara konsisten, sehingga perhitungan ROI hanya berdasarkan estimasi kasar.
- Mengabaikan payback period dan arus kas, padahal ROI tinggi tidak selalu berarti dana cepat kembali.
Kesimpulan
Menguasai cara menghitung ROI adalah keterampilan dasar yang membantu UMKM omzet menengah ke atas mengambil keputusan investasi berbasis data, bukan asumsi. Dengan rumus sederhana, laba bersih dibagi biaya investasi, Anda bisa menilai apakah pembelian mesin, pembukaan cabang, atau kampanye marketing benar-benar menguntungkan sebelum mengeksekusinya lebih jauh.
Baca Juga: Contoh Akuntansi Biaya: Pengertian, Jenis, dan Fungsi



