
Indonesia dikenal sebagai negara dengan jumlah UMKM kuliner yang sangat besar. Dari warung makan sederhana hingga kedai kopi modern, bisnis kuliner tumbuh di hampir setiap sudut kota. Namun, tidak semua usaha mampu berkembang dari skala warung menjadi brand yang kuat dan berkelanjutan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sektor makanan dan minuman merupakan salah satu penyumbang terbesar UMKM non-pertanian. Meski demikian, tingkat keberlanjutan usaha masih menjadi tantangan. Banyak bisnis kuliner berhenti di titik tertentu meskipun omzet sudah mendekati atau bahkan melampaui Rp100 juta per bulan.
Salah satu penyebab utama stagnasi tersebut bukan pada kualitas produk atau pasar, melainkan pada pengelolaan keuangan yang tidak siap untuk skala yang lebih besar.
Ketidakmampuan mengelola arus kas dan memisahkan keuangan pribadi dengan bisnis seringkali menjadi hambatan utama bagi UMKM untuk melakukan ekspansi. Padahal, jika dikelola dengan manajemen operasional yang rapi dan visi strategis yang tepat, potensi pasar di Indonesia sangatlah terbuka lebar bagi produk lokal untuk mendominasi.
Sebagai bukti nyata, beberapa pelaku usaha telah berhasil melewati fase kritis tersebut dan bertransformasi dari bisnis rumahan menjadi entitas bisnis yang besar dan disegani. Berikut adalah 10 brand UMKM Indonesia yang sukses membuktikan bahwa dengan sistem yang kuat, mereka mampu melakukan skalabilitas bisnis secara luar biasa:
1. Mie Gacoan: Master Strategi Harga dan Ekspansi
Dimulai di Malang pada 2016 oleh Anton Kurniawan, Mie Gacoan menjadi fenomena berkat strategi high volume, low margin. Dengan menjaga efisiensi biaya sehingga bisa menawarkan harga kompetitif bagi anak muda, Mie Gacoan sukses mengoperasikan lebih dari 280 cabang. Kuncinya? Kecepatan ekspansi dan pemanfaatan media sosial untuk membangun brand awareness yang masif.
2. Pisang Goreng Madu Bu Nanik: Inovasi Produk & Konsistensi
Nanik Soelistiowati mengubah persepsi produk tradisional melalui inovasi “Pisang Goreng Madu” yang aman bagi kesehatan. Meski sempat diragukan karena visual produknya, ketekunan dalam pemasaran melalui bazaar dan optimalisasi kanal pengiriman online (Gojek/Grab) membuat bisnis ini menjadi ikon kuliner Jakarta yang melegenda.
3. Kopi Kenangan: Skalabilitas Melalui Inovasi Brand
Sebagai salah satu unicorn F&B, Kopi Kenangan yang didirikan oleh Edward Tirtanata dan James Prananto (2017) menunjukkan pertumbuhan ritel tercepat. Di bawah Kenangan Brands, mereka terus melakukan diversifikasi produk (Cerita Roti, Chigo, hingga produk RTD di supermarket) untuk menjangkau berbagai segmen pasar secara efektif.
4. Eboni Watch: Mengubah Limbah Menjadi Nilai Ekspor
Afidha Fajar Adhitya membuktikan bahwa produk lokal bisa bersaing di kancah global. Memanfaatkan limbah kayu sonokeling dan maple, Eboni Watch memadukan estetika desain dengan efisiensi manufaktur. Hasilnya, mereka meraih berbagai penghargaan internasional dan melayani permintaan ekspor secara rutin.
5. Bakpia Pathok 25: Rebranding dan Relevansi Zaman
Ibu Tan Aris Nio membangun fondasi bisnis ini sejak 1981 di Yogyakarta. Agar tetap relevan bagi lintas generasi, Bakpia Pathok 25 melakukan pembaruan identitas (dari angka 38 ke 25 yang lebih catchy) serta terus berinovasi pada varian rasa untuk mengikuti selera pasar modern.
Ketika Warung Tumbuh, Masalah Keuangan Ikut Membesar
Pada fase awal, bisnis kuliner sering dijalankan secara intuitif. Pemilik usaha mengandalkan ingatan, catatan sederhana, atau bahkan hanya melihat sisa kas harian untuk menilai performa usaha. Pola ini mungkin masih relevan ketika transaksi sedikit dan biaya terbatas.
Namun, ketika usaha mulai berkembang, kompleksitas meningkat dengan cepat. Transaksi bertambah, biaya operasional melebar, dan risiko kebocoran makin besar. Kementerian Koperasi dan UKM mencatat bahwa lebih dari 70% UMKM di Indonesia belum memiliki pencatatan keuangan yang layak, sehingga sulit mengukur kinerja bisnis secara objektif.
Pada titik ini, banyak usaha kuliner terlihat ramai dan produktif, tetapi sebenarnya rapuh secara finansial.
Dari Sekadar Jualan ke Membangun Brand
Perbedaan mendasar antara warung dan brand bukan hanya soal logo atau jumlah cabang, melainkan cara bisnis dikelola. Brand membutuhkan konsistensi kualitas, efisiensi biaya, dan kontrol keuangan yang kuat.
Penelitian di bidang UMKM menunjukkan bahwa ketidakteraturan pencatatan keuangan menjadi salah satu penghambat utama UMKM untuk naik kelas, terutama di sektor makanan dan minuman. (Journal Al-Matani)
Tanpa data keuangan yang rapi, pemilik usaha akan kesulitan:
- Menentukan harga jual yang sehat
- Menilai profitabilitas tiap menu
- Menghitung kesiapan ekspansi
- Meyakinkan mitra atau investor
Di sinilah peran software akuntansi mulai krusial.
Software Akuntansi sebagai Fondasi Pertumbuhan Bisnis Kuliner
Software akuntansi bukan sekadar alat pembukuan digital. Untuk bisnis kuliner yang sedang bertumbuh, ia berfungsi sebagai fondasi manajemen modern.
Dengan software akuntansi, transaksi penjualan dan pengeluaran tercatat secara konsisten. Biaya bahan baku, gaji, operasional, dan promosi dapat dilihat dalam satu sistem yang terintegrasi. Laporan laba rugi tidak lagi menjadi dokumen yang disusun belakangan, melainkan alat pemantau performa harian.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep data-driven business. Dalam kajian Harvard Business Review, bisnis yang secara aktif menggunakan data untuk pengambilan keputusan terbukti memiliki kinerja yang lebih stabil dan produktif dibanding bisnis yang mengandalkan intuisi semata.
Masalah Keuangan yang Sering Menghambat Perjalanan dari Warung ke Brand
Dalam praktiknya, ada beberapa masalah keuangan yang hampir selalu muncul ketika bisnis kuliner mulai berkembang. Pertama, laba bersih tidak pernah benar-benar jelas. Banyak pemilik usaha hanya fokus pada omzet, padahal penelitian menunjukkan bahwa biaya tersembunyi seperti bahan terbuang dan pengeluaran kecil harian dapat menggerus hingga 10–20% pendapatan (Journal Unesa)
Kedua, arus kas sering terasa ketat meski penjualan tinggi. Tanpa laporan arus kas yang terstruktur, sulit membedakan antara uang usaha dan uang pribadi, sehingga keputusan finansial menjadi bias.
Ketiga, laporan keuangan sering tertunda atau tidak siap saat dibutuhkan. Padahal, akses pembiayaan dan ekspansi usaha hampir selalu mensyaratkan laporan keuangan minimal 6–12 bulan terakhir.
Dari Kontrol Harian ke Strategi Jangka Panjang
Software akuntansi membantu pemilik usaha kuliner berpindah dari pola reaktif ke pola strategis. Data keuangan tidak hanya menunjukkan apa yang terjadi hari ini, tetapi juga menjadi dasar perencanaan jangka panjang.
Pelaku usaha dengan laporan keuangan terstruktur memiliki peluang lebih besar dalam memperoleh pembiayaan formal dan mengembangkan usaha dibanding UMKM tanpa pencatatan yang baik.
Dengan sistem yang rapi, pemilik usaha bisa menilai kesiapan membuka cabang, menambah karyawan, atau melakukan rebranding secara objektif.
Digitalisasi UMKM Kuliner Tidak Cukup di Penjualan
Banyak bisnis kuliner sudah memanfaatkan teknologi di sisi pemasaran, seperti aplikasi pesan antar dan pembayaran digital. Namun digitalisasi tanpa manajemen keuangan yang solid hanya menciptakan pertumbuhan semu.
Kementerian Koperasi dan UKM mencatat bahwa UMKM yang melakukan digitalisasi secara menyeluruh, termasuk sistem keuangan, mengalami peningkatan kinerja usaha hingga 26%.
Software akuntansi menjadi jembatan agar pertumbuhan penjualan diikuti oleh pertumbuhan laba yang sehat.
Accountingplus.id: Mendampingi UMKM Kuliner Naik Kelas
Dalam perjalanan dari warung ke brand, UMKM kuliner membutuhkan sistem yang praktis namun andal. Accountingplus.id hadir untuk membantu pemilik usaha mengelola keuangan bisnis secara terstruktur tanpa kompleksitas berlebihan.
Accountingplus.id membantu mencatat transaksi harian, memantau kas, dan menyusun laporan keuangan yang mudah dipahami. Dengan sistem ini, pemilik usaha tidak hanya mengetahui angka, tetapi juga memahami makna di baliknya, sebuah fondasi penting untuk membangun brand yang berkelanjutan.
Kesimpulan: Brand Dibangun dengan Angka yang Terkontrol
Perjalanan dari warung ke brand bukan sekadar soal rasa, konsep, atau pemasaran. Di balik brand yang kuat, selalu ada sistem keuangan yang rapi dan terukur.
Bagi bisnis kuliner UMKM dengan omzet mendekati Rp100 juta per bulan atau lebih, software akuntansi menjadi alat penting untuk:
- Mengontrol laba dan biaya
- Menjaga arus kas tetap sehat
- Menyusun laporan keuangan kredibel
- Mengambil keputusan berbasis data
Di tengah persaingan kuliner yang semakin ketat, kemampuan mengelola angka sering kali menjadi pembeda antara usaha yang berhenti di tengah jalan dan bisnis yang benar-benar tumbuh menjadi brand. Sehingga, pada titik ini peran software akuntansi untuk bisnis kuliner sangat dibutuhkan.



