
Metode FIFO dan LIFO adalah dua pendekatan pencatatan persediaan yang berbeda arah asumsi arus barangnya, sementara metode average menghitung biaya berdasarkan rata-rata tertimbang. Di Indonesia, metode FIFO dan LIFO tidak sepenuhnya bisa dipilih bebas karena standar akuntansi PSAK 14 (kini PSAK 202) hanya mengizinkan FIFO dan average untuk pelaporan keuangan resmi. Bagi mayoritas UMKM, FIFO tetap menjadi pilihan paling relevan dan sesuai standar.
Apa Itu Metode FIFO, LIFO, dan Average dalam Akuntansi Persediaan?
Metode FIFO dan LIFO serta average adalah tiga pendekatan yang digunakan untuk menentukan urutan barang mana yang dianggap terjual dan berapa nilai persediaan yang tersisa di gudang.
Pengertian FIFO
FIFO (First In, First Out) adalah metode yang mengasumsikan barang yang pertama kali masuk ke gudang adalah barang yang pertama kali dijual. Nilai persediaan akhir dihitung dari harga pembelian barang yang paling baru.
Pengertian LIFO
LIFO (Last In, First Out) adalah kebalikan dari FIFO. Metode ini mengasumsikan barang yang terakhir masuk gudang adalah barang yang pertama dijual, sehingga nilai persediaan akhir dihitung dari harga pembelian yang paling lama.
Pengertian Average (Rata-rata Tertimbang)
Metode average, atau dikenal sebagai weighted average, menghitung biaya persediaan dari rata-rata seluruh harga pembelian yang tersedia untuk dijual, kemudian dibagi dengan jumlah unit yang tersedia. Metode ini tidak membedakan barang mana yang masuk lebih dulu atau belakangan.
Contoh Perhitungan Metode FIFO dan LIFO
Agar lebih mudah dipahami, berikut simulasi metode FIFO dan LIFO menggunakan data yang sama.
Data pembelian bulan berjalan (Toko Sembako Makmur):
- 1 Januari: beli 100 karung beras @Rp250.000 = Rp25.000.000
- 10 Januari: beli 150 karung beras @Rp270.000 = Rp40.500.000
- Total tersedia untuk dijual: 250 karung, total nilai Rp65.500.000
Pada 20 Januari, terjual 180 karung. Berikut perhitungan HPP dengan tiga metode:
- FIFO: 100 karung dari pembelian 1 Januari (Rp25.000.000) + 80 karung dari pembelian 10 Januari (Rp21.600.000) = HPP Rp46.600.000. Sisa persediaan 70 karung dari harga terbaru senilai Rp18.900.000.
- LIFO: 150 karung dari pembelian 10 Januari (Rp40.500.000) + 30 karung dari pembelian 1 Januari (Rp7.500.000) = HPP Rp48.000.000. Sisa persediaan 70 karung dari harga terlama senilai Rp17.500.000.
- Average: Harga rata-rata per karung Rp65.500.000 ÷ 250 = Rp262.000. HPP untuk 180 karung = Rp47.160.000. Sisa persediaan 70 karung senilai Rp18.340.000.
Dari simulasi metode FIFO dan LIFO di atas terlihat jelas bahwa saat harga barang naik, LIFO menghasilkan HPP lebih tinggi dan laba lebih rendah, sedangkan FIFO menghasilkan HPP lebih rendah dan laba lebih tinggi.
Perbandingan Metode FIFO, LIFO, dan Average

Metode Mana yang Terbaik untuk UMKM?
Jawaban atas perdebatan metode FIFO dan LIFO untuk konteks Indonesia sebenarnya cukup jelas, karena LIFO tidak lagi menjadi pilihan sah. Berikut panduan memilih antara FIFO dan average:
- Pilih FIFO jika usaha bergerak di bidang makanan, minuman, farmasi, atau produk dengan masa simpan terbatas, karena metode ini memastikan stok lama keluar lebih dulu dan meminimalkan risiko barang kedaluwarsa.
- Pilih FIFO jika ingin nilai persediaan di neraca mencerminkan harga pasar yang lebih terkini, misalnya untuk kebutuhan pengajuan kredit usaha.
- Pilih average jika produk yang dijual bersifat homogen dan harga beli sering berfluktuasi, seperti bahan bangunan curah atau komoditas, sehingga pencatatan tidak perlu melacak setiap batch pembelian secara terpisah.
- Pilih average jika sistem pencatatan manual dan ingin proses hitung yang lebih sederhana dibanding melacak lapisan (layer) pembelian seperti pada FIFO.
- Pertimbangkan konsistensi: begitu metode dipilih, PSAK 25 mensyaratkan perubahan metode harus punya alasan jelas dan disertai penyajian ulang laporan komparatif.
Kesalahan dalam Memilih Metode Persediaan
- Mengganti-ganti metode setiap periode tanpa dasar jelas, sehingga laporan laba rugi antarbulan sulit dibandingkan.
- Masih menggunakan LIFO untuk laporan resmi karena mengikuti template lama, padahal sudah tidak sesuai PSAK 202.
- Tidak mencatat tanggal dan harga pembelian per batch, sehingga perhitungan FIFO menjadi tidak akurat.
- Mengabaikan dampak metode persediaan terhadap perhitungan pajak penghasilan.
Kesalahan-kesalahan ini umumnya terjadi karena pencatatan stok masih manual dan terpisah dari laporan keuangan.
Kesimpulan
Metode FIFO dan LIFO memiliki logika arus barang yang berlawanan, sementara average berada di tengah dengan pendekatan rata-rata. Namun untuk pelaporan keuangan resmi di Indonesia, pilihan yang sah hanya FIFO dan average, karena LIFO sudah dilarang sejak revisi PSAK 14. Bagi mayoritas UMKM, terutama yang bergerak di sektor makanan, minuman, dan ritel dengan masa simpan terbatas, FIFO adalah pilihan yang paling relevan dan sesuai standar.
Baca Juga: Rumus BEP (Break Even Point), Manfaat, Cara Hitung, dan Contoh



