
Banyak pelaku UMKM di sektor kuliner dengan omzet mendekati atau melampaui Rp100 juta per bulan merasa usahanya berkembang pesat. Namun, pertumbuhan tersebut sering kali tidak diiringi peningkatan laba bersih yang sepadan. Kondisi ini bukan sekadar persepsi, melainkan dampak nyata dari kebocoran keuntungan akibat pencatatan keuangan yang belum tertata rapi dan kurang akurat.
Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, UMKM di Indonesia mendominasi struktur usaha nasional hingga 99% dari total unit usaha, menyumbang lebih dari 60% terhadap PDB, serta menyerap sekitar 96,9% tenaga kerja nasional. Namun, 77,5% UMKM tidak memiliki laporan keuangan yang layak untuk mengetahui kondisi profit dan biaya mereka secara akurat. (DJPB Kemenkeu)
Masalah nyata seperti ini memengaruhi profitabilitas dan keputusan pengembangan usaha secara signifikan, terutama ketika omzet sudah besar tetapi biaya tersembunyi dan kebocoran laba tidak terdeteksi secara sistematis.
Mengapa Laporan Keuangan UMKM Belum Optimal?
Masih banyak pelaku UMKM yang melakukan pencatatan keuangan secara manual atau bahkan tidak sama sekali. Dalam penelitian akademik, minimnya penggunaan sistem akuntansi berdampak langsung pada ketidaktepatan pencatatan pendapatan, biaya, dan laba usaha, terutama dalam penjualan harian atau pencatatan jurnal transaksi. (Al-Matani Journal)
Sistem manual seperti kas kecil atau spreadsheet sering kali:
- Rentan kesalahan input data
- Tidak mencatat biaya tak terduga
- Tidak real-time sehingga sulit kontrol kas
- Menyulitkan pemisahan biaya pribadi dan usaha
Tanpa sistem yang tepat, pengusaha hanya mengandalkan tebakan saat mengukur laba bersih, menyebabkan keputusan strategis menjadi kurang akurat.
Apa Itu Software Akuntansi dan Mengapa Perlu?
Secara sederhana, software akuntansi adalah program yang mengotomatisasi pencatatan, pengolahan, dan pelaporan keuangan sebuah bisnis, dari pencatatan transaksi harian sampai pembuatan laporan laba rugi.(Deskera)
Berbeda dengan pencatatan manual, software akuntansi mampu memberikan:
- Rekonsiliasi otomatis bank & transaksi
- Laporan keuangan real time
- Pemantauan arus kas dan profit harian
- Peringatan biaya tak terkendali
- Kemudahan mempersiapkan pajak dan audit
Dengan data terkini dan akurat, pemilik usaha dapat membuat keputusan cepat, bukan berdasarkan intusisi atau perkiraan.
Manfaat Utama Software Akuntansi untuk UMKM Omset Tinggi
1. Akurasi dan Pengurangan Kesalahan Manual
Alasan utama kebocoran laba adalah kesalahan pencatatan biaya dan pendapatan. Software akuntansi secara otomatis menghitung angka, mengurangi risiko human error. (ISA Consortium)
2. Laporan Real-Time untuk Pengambilan Keputusan Cepat
Daripada menunggu akhir bulan, pelaku usaha bisa memantau cash flow, saldo kas, dan laba harian dalam hitungan menit. (Atidiv)
3. Monitoring Biaya yang Lebih Baik
Software akuntansi memungkinkan pengelompokan biaya sehingga Anda tahu dengan tepat kegiatan mana yang “membocorkan” laba.
4. Peningkatan Efisiensi Operasional
Otomatisasi transaksi harian hingga pembuatan laporan mengurangi waktu pencatatan manual yang boros sumber daya. (Deskera)
5. Akses Data Dimana Saja (Cloud-Based)
Teknologi cloud accounting memberikan fleksibilitas pemantauan keuangan kapan pun dan di mana pun tanpa perlu server lokal. (SATU University)
Contoh Kasus: UMKM Omset Tinggi Tapi Laba Tidak Maksimal
Bayangkan usaha kuliner atau toko ritel dengan omzet sekitar Rp120 juta/bulan. Secara kasarnya, margin laba bersih di sektor ini rata-rata sekitar 15%–25% bila biaya dikendalikan dengan baik. Namun tanpa sistem akuntansi:
- Beberapa pengeluaran kecil terlupakan
- Pencatatan penjualan tidak konsisten
- Pengeluaran operasional seperti bahan baku, servis alat, atau utilitas tidak tercatat akurat
Akibatnya, laba yang semula diperkirakan Rp18–30 juta bisa saja hanya sekitar Rp8–12 juta setelah semua biaya tersembunyi terungkap. Software akuntansi membantu memperjelas potensi gap seperti ini secara cepat.
Bukankah Laporan Keuangan Manual Cukup?
Banyak UMKM masih ragu karena berpikir pencatatan spreadsheet sudah cukup. Namun, penelitian menunjukkan bahwa ketidaktepatan pencatatan manual berpotensi menimbulkan kesalahan signifikan, terutama ketika volume transaksi meningkat dan struktur biaya makin kompleks. (Journal of Universitas Negeri Surabaya)
Selain itu, pencatatan manual berarti:
- Tidak ada pencatatan real time
- Tidak mudah dikonsolidasikan untuk beberapa lokasi usaha
- Lebih rentan terhadap kesalahan input
Bagaimana Memilih Software Akuntansi yang Tepat untuk UMKM?
Untuk UMKM dengan omzet mendekati atau di atas Rp100 juta per bulan, memilih software akuntansi harus pertimbangkan hal-hal berikut:
- Kemudahan penggunaan: Pengguna non-akuntan harus bisa mengoperasikannya.
- Laporan real-time: Akses cepat ke laporan laba, arus kas, ekuitas.
- Integrasi kas & bank: Rekonsiliasi otomatis transaksi.
- Akses cloud: Untuk akses dari mana saja.
- Skalabilitas: Saat usaha berkembang, fitur dapat diperluas.
Accountingplus.id Solusi Akuntansi Praktis untuk UMKM
Jika kamu mencari solusi yang terintegrasi, mudah dipakai, dan dirancang untuk skala UMKM, Accountingplus.id hadir sebagai salah satu pilihan software akuntansi yang membantu:
- Pencatatan keuangan otomatis setiap hari
- Laporan laba rugi dan arus kas real-time
- Dashboard visual yang mudah dipahami
- Mendukung pertumbuhan usaha hingga ekspansi
Dengan Accountingplus.id, bukan cuma laporan keuangan yang rapi, tetapi juga insight strategis yang membantu kamu mengambil keputusan bisnis lebih cepat dan tepat.
Kesimpulan
UMKM dengan omzet tinggi tidak otomatis berarti laba bersih optimal. Banyak usaha mengalami laba bocor karena:
- Pencatatan tidak akurat
- Biaya tersembunyi
- Informasi keuangan tidak tersedia secara real-time
Software akuntansi memberikan solusi dengan:
- Mengotomatisasi pencatatan
- Menyediakan laporan keuangan real-time
- Mengurangi kesalahan manual
- Menyediakan data akurat untuk pengambilan keputusan
Dengan implementasi software akuntansi yang tepat, seperti Accountingplus.id, UMKM tidak hanya bisa menjaga laba tetap optimal, tetapi juga mendukung pertumbuhan usaha berkelanjutan.



