default-pattern

Cara Menghitung Laba Bersih dan Laba Kotor untuk UMKM: Panduan Lengkap

Cara Menghitung Laba Bersih dan Laba Kotor untuk UMKM: Panduan Lengkap

Cara menghitung laba kotor adalah pendapatan dikurangi Harga Pokok Penjualan (HPP), sedangkan cara menghitung laba bersih adalah laba kotor dikurangi seluruh biaya operasional, bunga, dan pajak. Kedua angka ini wajib dipantau UMKM setiap bulan karena menjadi dasar penentuan harga jual, evaluasi efisiensi usaha, dan syarat pengajuan kredit ke bank atau lembaga pembiayaan.

Apa Itu Laba Kotor dan Laba Bersih?

Sebelum masuk ke cara menghitung laba, penting memahami dulu perbedaan mendasar dari dua istilah ini.

Pengertian Laba Kotor

Laba kotor (gross profit) adalah selisih antara pendapatan penjualan dengan biaya langsung untuk memproduksi atau membeli barang yang dijual, atau yang dikenal sebagai Harga Pokok Penjualan (HPP). Laba kotor belum memperhitungkan biaya operasional seperti gaji karyawan, sewa toko, atau biaya pemasaran.

Pengertian Laba Bersih

Laba bersih (net profit) adalah hasil akhir setelah seluruh biaya usaha, termasuk biaya operasional, biaya administrasi, bunga pinjaman, dan pajak, dikurangkan dari laba kotor. Laba bersih inilah yang mencerminkan keuntungan riil yang dinikmati pemilik usaha.

Cara Menghitung Laba Kotor UMKM

Rumus dasar cara menghitung laba kotor adalah sebagai berikut:

Laba Kotor = Pendapatan Penjualan − Harga Pokok Penjualan (HPP)

Langkah-langkah cara menghitung laba kotor:

  1. Jumlahkan seluruh pendapatan penjualan dalam periode berjalan (misalnya satu bulan).
  2. Hitung HPP, yaitu total biaya bahan baku, biaya produksi langsung, atau harga beli barang dagangan yang terjual.
  3. Kurangkan HPP dari pendapatan penjualan.

Contoh: Toko Berkah Jaya, UMKM konveksi di Bandung, mencatat penjualan Rp150.000.000 dalam satu bulan. HPP untuk kain, benang, dan upah jahit tercatat Rp90.000.000. Maka laba kotornya adalah Rp150.000.000 − Rp90.000.000 = Rp60.000.000.

Cara Menghitung Laba Bersih UMKM

Setelah laba kotor diketahui, cara menghitung laba bersih dilanjutkan dengan mengurangi seluruh beban operasional dan non-operasional.

Related Post  Software Akuntansi untuk Toko Bangunan: Kontrol Kas dan Barang Sekaligus

Laba Bersih = Laba Kotor − Biaya Operasional − Biaya Administrasi & Umum − Bunga − Pajak

Langkah-langkah cara menghitung laba bersih:

  1. Mulai dari angka laba kotor yang sudah dihitung sebelumnya.
  2. Kurangkan biaya operasional: gaji karyawan, sewa tempat usaha, listrik, biaya pemasaran, dan transportasi.
  3. Kurangkan biaya administrasi dan umum, termasuk perlengkapan kantor dan biaya penyusutan aset.
  4. Kurangkan beban bunga jika UMKM memiliki pinjaman usaha.
  5. Kurangkan pajak penghasilan sesuai tarif PPh Final UMKM atau tarif yang berlaku.

Lanjutan contoh: Dari laba kotor Rp60.000.000, Toko Berkah Jaya mengeluarkan biaya operasional (gaji, sewa, listrik) Rp25.000.000, biaya administrasi Rp3.000.000, dan pajak PPh Final 0,5% dari omzet sebesar Rp750.000. Maka laba bersihnya adalah Rp60.000.000 − Rp25.000.000 − Rp3.000.000 − Rp750.000 = Rp31.250.000.

Perbedaan Laba Kotor dan Laba Bersih

Perbedaan Laba Kotor dan Laba Bersih

Mengapa UMKM Wajib Menghitung Kedua Jenis Laba Ini

  • Menentukan harga jual yang sehat: Tanpa mengetahui laba kotor, pelaku usaha berisiko menjual di bawah biaya produksi.
  • Mengukur efisiensi operasional: Selisih besar antara laba kotor dan laba bersih menandakan biaya operasional terlalu tinggi.
  • Syarat pengajuan kredit usaha: Bank dan lembaga pembiayaan mensyaratkan laporan laba rugi yang memuat laba kotor dan laba bersih.
  • Dasar perhitungan pajak: Laba bersih menjadi acuan dalam pelaporan SPT Tahunan bagi UMKM yang memenuhi kriteria tertentu.
  • Evaluasi keputusan ekspansi: Cara menghitung laba yang konsisten setiap bulan membantu pemilik usaha menilai waktu tepat untuk membuka cabang atau menambah stok.

Kesimpulan

Cara menghitung laba kotor dan cara menghitung laba bersih adalah dua kemampuan dasar yang wajib dikuasai setiap pelaku UMKM, terutama yang omzetnya sudah mencapai skala menengah. Laba kotor menunjukkan efisiensi produksi, sementara laba bersih menunjukkan keuntungan riil setelah seluruh kewajiban dibayarkan. Menghitung keduanya secara rutin membantu UMKM mengambil keputusan bisnis yang lebih tepat, mulai dari penetapan harga hingga pengajuan kredit usaha.

Baca Juga: Laporan Arus Kas: Pengertian, Cara Membuat, dan Contoh