default-pattern

Cara Membuat Pembukuan Keuangan F&B: Tahapan, Komponen, dan Contohnya

Cara Membuat Pembukuan Keuangan F&B: Tahapan, Komponen, dan Contohnya

Kenapa Pembukuan Keuangan Penting bagi Usaha F&B?

Usaha F&B punya karakteristik berbeda dibanding sektor lain: bahan baku mudah rusak (perishable), harga bahan pangan fluktuatif, dan volume transaksi harian sangat banyak meski nilainya kecil per transaksi. Tanpa cara membuat pembukuan keuangan yang disiplin, tiga risiko berikut mudah muncul:

  • Selisih kas tidak terlacak karena transaksi tunai bercampur dengan uang pribadi pemilik.
  • HPP (Harga Pokok Penjualan) meleset karena sisa bahan baku tidak dihitung, sehingga harga jual menu jadi tidak akurat, pembahasan detailnya bisa dilihat pada panduan cara hitung HPP makanan.
  • Sulit mengajukan pembiayaan ke bank atau investor karena tidak ada laporan laba rugi maupun arus kas yang bisa diverifikasi.

Bagi UMKM F&B dengan omzet di atas Rp100 juta per bulan, pembukuan keuangan bukan lagi sekadar formalitas administratif. Ini fondasi untuk ekspansi cabang, negosiasi harga dengan supplier, dan efisiensi pajak.

Apa Itu Pembukuan Keuangan F&B?

Pembukuan keuangan adalah proses mencatat, mengelompokkan, dan merangkum seluruh transaksi keuangan bisnis secara sistematis berdasarkan urutan waktu kejadian. Pada usaha F&B, cakupannya lebih spesifik karena melibatkan pencatatan bahan baku dan proses produksi, berbeda dengan pembukuan usaha dagang yang umumnya hanya mencatat barang jadi untuk dijual kembali. Standar yang berlaku untuk skala UMKM di Indonesia adalah SAK EMKM (Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah) terbitan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), yang dirancang sederhana tanpa mensyaratkan latar belakang akuntansi formal. Perlu dicatat, pembukuan berbeda dengan akuntansi: pembukuan berfokus pada pencatatan transaksi harian, sedangkan akuntansi mencakup analisis dan penyusunan laporan yang lebih luas.

Komponen Utama Pembukuan Keuangan F&B

1. Buku Kas Harian

Mencatat seluruh uang masuk (penjualan tunai, non-tunai, dan platform delivery) dan uang keluar (belanja bahan baku, gaji, sewa) pada hari yang sama transaksi terjadi. Buku ini menjadi sumber data utama seluruh laporan keuangan berikutnya.

Related Post  Transformasi Digital untuk UKM Tradisional: Lebih dari Sekadar Penjualan Online untuk 60% PDB Indonesia

2. Buku Persediaan Bahan Baku

Mencatat barang masuk, bahan yang terpakai untuk produksi, dan sisa stok akhir per jenis bahan. Tanpa buku ini, perhitungan HPP hampir pasti meleset, mengingat bahan baku F&B mudah rusak dan rawan susut.

3. Perhitungan HPP per Menu

Setiap menu idealnya punya HPP tersendiri: bahan baku langsung ditambah tenaga kerja langsung dan overhead dapur, dibagi jumlah porsi yang dihasilkan. Rumus dan contoh perhitungannya bisa dipelajari lebih lengkap pada cara hitung HPP makanan.

4. Buku Piutang dan Utang

Diperlukan bila usaha menerima pembayaran korporat atau katering dengan termin, atau membeli bahan baku dari supplier secara kredit.

5. Laporan Laba Rugi

Merangkum pendapatan bersih dikurangi HPP dan biaya operasional (listrik, gas, gaji, sewa) dalam satu periode, biasanya disusun bulanan.

6. Laporan Arus Kas

Menunjukkan dari mana kas masuk dan ke mana kas keluar. Komponen ini penting karena usaha F&B punya siklus belanja bahan baku yang jauh lebih sering dibanding sektor lain.

7. Neraca Sederhana

Menggambarkan posisi aset (kas, peralatan dapur, persediaan), utang, dan modal usaha pada satu titik waktu tertentu.

Tahapan Cara Membuat Pembukuan Keuangan F&B

  1. Pisahkan rekening bisnis dan pribadi sejak awal, ini fondasi dari seluruh cara membuat pembukuan keuangan yang akurat.
  2. Tentukan periode pencatatan: harian untuk buku kas dan stok, bulanan untuk laporan laba rugi dan neraca.
  3. Susun daftar akun (chart of account) sederhana: kas, bank, persediaan, peralatan, utang, modal, penjualan, HPP, dan biaya operasional.
  4. Catat setiap transaksi pada hari yang sama saat terjadi, jangan ditumpuk sampai akhir minggu.
  5. Lakukan stock opname bahan baku secara berkala, idealnya mingguan, agar HPP bisa dihitung lebih akurat.
  6. Rekonsiliasi saldo kas dengan saldo rekening bank setiap bulan untuk memastikan tidak ada selisih.
  7. Susun laporan laba rugi, arus kas, dan neraca setiap akhir bulan sebagai dasar evaluasi dan pengambilan keputusan bisnis.
Related Post  Tanpa Software Akuntansi, Bisnis Kuliner Sulit Tumbuh Stabil

Contoh Pembukuan Keuangan F&B Sederhana

Berikut contoh buku kas harian sebuah usaha resto skala menengah:

Contoh Pembukuan Keuangan F&B Sederhana

Dari contoh di atas terlihat prinsip cara membuat pembukuan keuangan yang benar: setiap transaksi, sekecil apa pun, dicatat pada hari terjadinya, dan pendapatan dari platform delivery dicatat neto setelah dipotong komisi, bukan nilai bruto pesanan. Mencatat omzet secara bruto adalah kesalahan paling umum yang membuat laporan laba rugi usaha F&B terlihat lebih baik dari kondisi kas yang sebenarnya.

Kesalahan dalam Pembukuan Keuangan F&B

  • Tidak menghitung sisa bahan baku, sehingga HPP menjadi tidak akurat.
  • Mencampur uang kas usaha dengan uang pribadi pemilik.
  • Mencatat omzet platform delivery secara bruto, padahal dana yang cair sudah dipotong komisi.
  • Tidak menyisihkan dana penyusutan peralatan dapur seperti kompor, kulkas, atau mesin kopi.
  • Menunda pencatatan hingga akhir bulan, sehingga rawan data hilang atau nota terselip.

Kesimpulan

Cara membuat pembukuan keuangan F&B yang rapi tidak membutuhkan latar belakang akuntansi khusus, cukup dimulai dari tujuh komponen di atas dan dijalankan konsisten setiap hari. Bagi UMKM F&B dengan omzet menengah ke atas, pembukuan keuangan yang tertib adalah syarat utama untuk mengajukan pembiayaan, membuka cabang baru, dan menjaga margin tetap sehat di tengah harga bahan pangan yang fluktuatif. Pembahasan lebih lanjut mengenai penerapannya juga bisa dilihat pada cara pembukuan keuangan usaha kuliner. Jika mencatat ratusan transaksi harian secara manual mulai terasa berat, Accounting+ dapat membantu mengotomatiskan pencatatan kas, persediaan, hingga laporan laba rugi usaha F&B Anda dalam satu sistem, sehingga waktu Anda bisa lebih fokus mengurus dapur dan pelanggan, bukan tumpukan nota.

Baca Juga: Contoh Akuntansi Biaya: Pengertian, Jenis, dan Fungsi