default-pattern

Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report): Pengertian, Komponen, Fungsi, dan Contohnya

Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report): Pengertian, Komponen, Fungsi, dan Contohnya

Ringkasan Singkat

  • Laporan Keberlanjutan adalah dokumen pengungkapan kinerja ekonomi, lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) suatu usaha.
  • UMKM belum diwajibkan menyusun Laporan Keberlanjutan, tetapi mulai dibutuhkan untuk akses pembiayaan hijau dan rantai pasok perusahaan besar.
  • Pencatatan keuangan yang rapi adalah fondasi utama sebelum menyusun Laporan Keberlanjutan.

Apa Itu Laporan Keberlanjutan?

Laporan Keberlanjutan atau sustainability report adalah dokumen yang memuat pengungkapan kinerja perusahaan dari tiga aspek utama, yaitu ekonomi, lingkungan, dan sosial, yang kemudian dilengkapi aspek tata kelola sehingga sering disebut sebagai laporan ESG (Environmental, Social, Governance). Berbeda dari laporan keuangan yang berfokus pada angka finansial, Laporan Keberlanjutan menjelaskan bagaimana suatu usaha menjalankan operasinya secara bertanggung jawab terhadap lingkungan, karyawan, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya.

Mengapa Laporan Keberlanjutan Penting bagi UMKM?

Sekilas, Laporan Keberlanjutan terlihat sebagai urusan korporasi besar atau emiten. Namun, tren ini mulai merambat ke pelaku UMKM, khususnya yang memiliki omzet menengah hingga besar dan berperan sebagai pemasok bagi perusahaan besar atau eksportir. Ada beberapa alasan konkret:

  • Akses pembiayaan hijau: bank kini menilai profil keberlanjutan calon debitur, bukan hanya laporan keuangan, sebelum menyalurkan kredit.
  • Syarat rantai pasok global: ASEAN Capital Markets Forum telah menerbitkan ASEAN Simplified ESG Disclosure Guide (ASEDG) khusus bagi UMKM dalam rantai pasok, karena buyer internasional makin sering meminta bukti praktik keberlanjutan dari pemasoknya.
  • Nilai tambah reputasi: usaha yang transparan soal dampak lingkungan dan sosialnya lebih dipercaya konsumen dan mitra bisnis.

Komponen Utama Laporan Keberlanjutan

Secara umum, penyusunan Laporan Keberlanjutan mengacu pada standar internasional seperti Global Reporting Initiative (GRI), yang membagi pengungkapan menjadi empat komponen utama.

Related Post  Aplikasi Pembukuan Toko: Pengertian, Manfaat, dan Cara Memilih?

1. Aspek Ekonomi

Mencakup kinerja ekonomi langsung, seperti nilai ekonomi yang dihasilkan dan didistribusikan (pendapatan, biaya operasional, upah karyawan, pembayaran ke pemerintah), serta dampak ekonomi tidak langsung terhadap komunitas sekitar.

2. Aspek Lingkungan

Meliputi penggunaan energi dan air, pengelolaan limbah produksi, emisi gas rumah kaca, serta upaya efisiensi sumber daya. Bagi UMKM manufaktur atau konveksi, misalnya, ini bisa berupa proporsi bahan baku daur ulang yang digunakan.

3. Aspek Sosial

Berkaitan dengan kesejahteraan karyawan, kesehatan dan keselamatan kerja (K3), kesetaraan gender, pelatihan sumber daya manusia, serta kontribusi terhadap komunitas lokal.

4. Tata Kelola (Governance)

Menjelaskan struktur pengambilan keputusan, kepatuhan terhadap regulasi, kode etik bisnis, serta mekanisme pengelolaan risiko, termasuk risiko iklim.

Fungsi Laporan Keberlanjutan bagi Bisnis

  1. Meningkatkan kepercayaan investor, perbankan, dan mitra bisnis terhadap keberlangsungan usaha.
  2. Membuka akses pembiayaan berkelanjutan (green financing) dengan bunga yang kerap lebih kompetitif.
  3. Berfungsi sebagai alat manajemen risiko, terutama risiko transisi dan fisik terkait perubahan iklim.
  4. Memperkuat reputasi merek di mata konsumen yang makin peduli isu lingkungan dan sosial.
  5. Menjadi syarat masuk ke rantai pasok perusahaan multinasional atau program ekspor tertentu.

Cara Menyusun Laporan Keberlanjutan Sederhana untuk UMKM

UMKM tidak perlu menyusun Laporan Keberlanjutan sekompleks emiten. Berikut langkah awal yang realistis:

  1. Kumpulkan data dasar operasional: konsumsi listrik dan air, volume limbah, jumlah karyawan, serta data upah.
  2. Petakan dampak usaha pada tiga pilar utama: ekonomi, lingkungan, dan sosial.
  3. Tetapkan indikator kinerja sederhana (KPI) yang relevan dengan skala usaha, misalnya persentase bahan baku daur ulang atau rasio karyawan lokal.
  4. Susun narasi singkat disertai data kuantitatif dalam format tahunan, tidak perlu meniru format emiten yang panjang.
  5. Publikasikan sebagai bagian dari laporan tahunan internal, proposal ke calon investor, atau halaman khusus di website usaha.
Related Post  Aplikasi Pembukuan untuk Bisnis Kuliner Multi-Cabang

Contoh Laporan Keberlanjutan Sederhana untuk UMKM

Sebagai gambaran, berikut contoh ringkas Laporan Keberlanjutan untuk UMKM konveksi dengan omzet menengah:

  • Ekonomi: pendapatan tahun berjalan naik 18% dibanding tahun sebelumnya; total upah yang dibayarkan kepada 35 karyawan tetap.
  • Lingkungan: 22% kain sisa produksi diolah kembali menjadi produk turunan; penggantian lampu produksi ke LED menurunkan konsumsi listrik sekitar 15%.
  • Sosial: seluruh karyawan produksi mengikuti pelatihan K3 setiap semester; 60% karyawan berasal dari desa sekitar lokasi usaha.
  • Tata kelola: pencatatan keuangan menggunakan sistem digital untuk memastikan transparansi arus kas dan pelaporan pajak yang tepat waktu.

Peran Pencatatan Keuangan yang Rapi dalam Menyusun Laporan Keberlanjutan

Komponen ekonomi dalam Laporan Keberlanjutan, nilai ekonomi yang dihasilkan dan didistribusikan, hanya bisa disusun akurat jika pembukuan usaha sudah rapi. Di sinilah pencatatan keuangan digital berperan penting. Dengan aplikasi seperti Accounting+, pelaku UMKM dapat menghasilkan laporan keuangan, arus kas, dan data operasional secara otomatis, sehingga proses menyusun bagian ekonomi dari Laporan Keberlanjutan menjadi jauh lebih mudah dan minim risiko salah hitung.

Pembahasan lebih lanjut mengenai penyusunan laporan arus kas dan analisis laporan keuangan bisa membantu UMKM menyiapkan data dasar sebelum menyusun Laporan Keberlanjutan yang lebih lengkap.

Kesimpulan

Laporan Keberlanjutan bukan lagi sekadar formalitas emiten besar. Dengan kontribusi UMKM yang mencapai 61% PDB namun kontribusi ekspor yang masih rendah, penguatan praktik keberlanjutan menjadi salah satu jalan bagi UMKM omzet menengah-besar untuk naik kelas, membuka akses pembiayaan, dan masuk ke rantai pasok yang lebih luas. Langkah pertama yang paling realistis adalah memastikan pencatatan keuangan sudah rapi dan terstruktur, sebelum melangkah menyusun Laporan Keberlanjutan yang lebih komprehensif.

Baca Juga: Metode Penyusutan Aset Tetap: Pengertian, Fungsi, dan Contoh