
Mengelola usaha dagang dengan omzet ratusan juta rupiah tanpa laporan keuangan yang tertata adalah risiko besar yang sering diabaikan. Padahal, laporan laba rugi perusahaan dagang bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan instrumen utama untuk membaca kesehatan bisnis secara akurat.
Apa Itu Laporan Laba Rugi Perusahaan Dagang?
Laporan laba rugi perusahaan dagang adalah laporan keuangan yang menyajikan pendapatan, harga pokok penjualan (HPP), beban operasional, dan laba atau rugi bersih dalam suatu periode tertentu. Laporan ini disusun untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan barang.
Berbeda dengan perusahaan jasa, perusahaan dagang memiliki komponen tambahan yaitu Harga Pokok Penjualan (HPP) yang mencerminkan biaya perolehan barang yang terjual. Komponen inilah yang menjadi pembeda utama dalam struktur laporan laba rugi perusahaan dagang.
Istilah Penting dalam Laporan Laba Rugi Perusahaan Dagang
- Penjualan Bersih: total pendapatan dari penjualan dikurangi retur dan potongan penjualan.
- Harga Pokok Penjualan (HPP): biaya langsung perolehan barang yang berhasil dijual.
- Laba Kotor: selisih antara penjualan bersih dan HPP.
- Beban Operasional: biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan operasional usaha seperti gaji, sewa, dan transportasi.
- Laba Bersih (Net Income): hasil akhir setelah semua beban dikurangi dari pendapatan.
Fungsi Laporan Laba Rugi bagi Perusahaan Dagang
Bagi pelaku UMKM dagang dengan omzet menengah ke atas, laporan laba rugi berfungsi sebagai:
- Alat Evaluasi Kinerja: membandingkan profitabilitas antar periode (bulanan, triwulanan, tahunan).
- Dasar Pengambilan Keputusan: menentukan apakah perlu memangkas biaya, menaikkan harga jual, atau memperluas lini produk.
- Syarat Akses Pembiayaan: bank dan lembaga keuangan mewajibkan laporan laba rugi untuk pengajuan kredit usaha.
- Pelaporan Pajak: dasar penghitungan PPh badan atau PPh final sesuai ketentuan Direktorat Jenderal Pajak.
- Laporan kepada Investor atau Mitra: bukti transparansi dan akuntabilitas usaha kepada pihak eksternal.
Komponen Utama Laporan Laba Rugi Perusahaan Dagang
Secara umum, laporan laba rugi perusahaan dagang terdiri dari empat bagian utama:
1. Pendapatan (Revenue)
- Penjualan Bruto: total nilai penjualan sebelum dikurangi retur.
- Retur Penjualan: barang yang dikembalikan pembeli.
- Potongan Penjualan: diskon yang diberikan kepada pelanggan.
2. Harga Pokok Penjualan (HPP)
Formula HPP perusahaan dagang:
HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih − Persediaan Akhir
3. Beban Operasional
- Beban penjualan: iklan, komisi sales, ongkos kirim.
- Beban administrasi & umum: gaji staf, sewa kantor, listrik, penyusutan aset.
4. Pendapatan & Beban Lain-lain
Meliputi pendapatan bunga, beban bunga pinjaman, dan selisih kurs (jika relevan).
Cara Membuat Laporan Laba Rugi Perusahaan Dagang
Berikut langkah sistematis menyusun laporan ini:
- Kumpulkan semua data transaksi penjualan dalam periode berjalan (bulanan atau tahunan).
- Hitung penjualan bersih dengan mengurangi retur dan diskon dari total penjualan.
- Hitung HPP: catat persediaan awal, tambahkan pembelian bersih, kurangi persediaan akhir.
- Hitung laba kotor: Penjualan Bersih − HPP.
- Susun seluruh beban operasional dan jumlahkan.
- Hitung laba operasional: Laba Kotor − Total Beban Operasional.
- Tambahkan pendapatan lain-lain dan kurangi beban lain-lain.
- Hitung laba sebelum pajak, kurangi PPh, dan dapatkan laba bersih.
Contoh Laporan Laba Rugi Perusahaan Dagang
Berikut contoh laporan dengan format single-step yang disederhanakan untuk UD Maju Bersama, distributor alat rumah tangga, periode Januari 2025:

Format Laporan Laba Rugi: Single-Step vs Multi-Step
Ada dua format yang umum digunakan dalam laporan ini:
- Single-Step: semua pendapatan dijumlahkan, lalu dikurangi semua beban sekaligus. Lebih sederhana, cocok untuk usaha skala kecil.
- Multi-Step: memisahkan laba kotor, laba operasional, dan laba bersih secara bertahap. Lebih informatif, direkomendasikan untuk UMKM omzet menengah ke atas karena memperlihatkan efisiensi tiap lapis bisnis.
Kesimpulan & Rekomendasi
Laporan ini adalah cermin kondisi keuangan bisnis Anda. Bagi UMKM dengan omzet di atas Rp100 juta per bulan, laporan ini bukan sekadar formalitas, melainkan alat strategi yang menentukan arah pertumbuhan usaha.
Menyusun laporan ini secara manual memang bisa dilakukan, namun risikonya terletak pada ketelitian dan konsistensi data. Accounting+ hadir sebagai solusi software akuntansi yang dirancang khusus untuk UMKM Indonesia: otomatisasi pencatatan transaksi, perhitungan HPP real-time, dan laporan laba rugi yang dapat dihasilkan kapan saja hanya dalam beberapa klik. Dengan Accounting+, Anda tidak perlu lagi khawatir tentang kesalahan kalkulasi atau data yang tidak sinkron.
Baca Juga: Laporan Arus Kas: Pengertian, Cara Membuat, dan Contoh



