default-pattern

Apa Itu Overstock? Pengertian, Penyebab, Dampak dan Cara Mencegah Overstock

Apa Itu Overstock? Pengertian, Penyebab, Dampak dan Cara Mencegah Overstock

Key Takeaways:

  • Overstock terjadi ketika stok lebih banyak daripada kebutuhan atau permintaan, sehingga modal dapat tertahan dan biaya penyimpanan meningkat.
  • Pantau data penjualan dan pergerakan stok untuk mengetahui produk fast-moving, slow-moving, serta menghindari pembelian yang berlebihan.
  • Lakukan pengelolaan persediaan secara rutin, mulai dari menentukan batas stok, melakukan stock opname, hingga menggunakan sistem pencatatan yang membantu memantau pergerakan barang.

Apa Itu Overstock?

Overstock adalah kondisi ketika bisnis memiliki persediaan barang dalam jumlah berlebihan dibandingkan permintaan atau kebutuhan operasional. Sederhananya, barang yang masuk ke gudang lebih banyak daripada barang yang keluar atau terjual.

Contohnya, sebuah toko pakaian biasanya menjual sekitar 100 kaus per bulan. Karena memperkirakan permintaan akan meningkat, pemilik membeli 300 kaus sekaligus. Namun, setelah satu bulan berlalu, hanya 80 kaus yang terjual.

Artinya, masih ada 220 kaus yang tersimpan di gudang. Jika kondisi tersebut terus terjadi, stok akan semakin menumpuk dan sebagian barang bisa berubah menjadi slow-moving atau bahkan dead stock.

Bedanya Overstock dan Deadstock

Fitur / ParameterOverstock (Kelebihan Stok)Deadstock (Stok Mati)
Status BarangBarang masih bagus dan masih bisa dijual ke pembeli.Barang sudah tidak bisa dijual atau tidak ada yang mau membeli.
PenyebabTerlalu banyak membeli barang melebihi perkiraan penjualan.Barang kedaluwarsa, rusak, cacat, atau trennya sudah lewat.
Nilai UangMasih bisa jadi uang (meskipun perputarannya lambat).Nilainya turun drastis jadi Rp0 (menjadi kerugian total).
SolusiDiberi diskon, dibuat paket bundling, atau dihentikan dulu pembelian ulangnya.Dibuang, didaur ulang, atau dijual obral rugi (clearance).

Mengapa Overstock Bisa Terjadi

Overstock dapat terjadi karena beberapa hal, terutama ketika keputusan pembelian tidak didukung data persediaan yang akurat.

Related Post  Jenis-Jenis Transaksi Perusahaan Jasa & Contohnya

1. Perkiraan Penjualan Kurang Tepat

Bisnis mungkin memperkirakan permintaan akan meningkat sehingga membeli barang dalam jumlah besar. Namun, jika penjualan ternyata tidak sesuai perkiraan, stok akan tersisa terlalu banyak.

2. Tidak Memantau Pergerakan Stok

Mengetahui jumlah stok saja belum cukup. Bisnis juga perlu mengetahui seberapa cepat barang masuk dan keluar dari gudang. Produk yang penjualannya lambat tetapi terus dibeli akan lebih mudah mengalami penumpukan.

3. Pencatatan Stok Tidak Akurat

Kesalahan mencatat barang masuk dan keluar dapat membuat jumlah stok dalam catatan berbeda dengan stok sebenarnya. Misalnya, catatan menunjukkan stok produk A tinggal 20 unit. Karena itu, pemilik membeli 50 unit lagi. Setelah dicek, ternyata masih ada 70 unit di gudang. Jika kondisi seperti ini sering terjadi, bisnis akan lebih mudah melakukan pembelian secara berlebihan.

4. Membeli dalam Jumlah Besar

Membeli dalam jumlah besar memang sering mendapatkan harga yang lebih murah. Namun, pembelian tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan penjualan. Harga beli yang lebih rendah tidak akan banyak membantu jika barang justru terlalu lama tersimpan di gudang.

5. Permintaan Pelanggan Berubah

Produk yang sebelumnya banyak diminati belum tentu tetap laku di periode berikutnya. Perubahan tren, musim, atau kebutuhan pelanggan dapat membuat permintaan menurun. Jika bisnis tetap membeli dalam jumlah yang sama, stok lama akan semakin menumpuk.

Apa Dampak Overstock

Jika dibiarkan terus-menerus, overstock akan membawa dampak buruk bagi kelangsungan bisnis Anda:

  • Uang Kas Macet (Cash Flow Terganggu): Modal usaha yang harusnya bisa dipakai bayar listrik, sewa tempat, gaji karyawan, atau promosi, malah “terkunci” di tumpukan kardus barang.
  • Biaya Sewa dan Perawatan Gudang Membengkak: Semakin banyak barang disimpan, makin luas gudang yang dibutuhkan. Biaya perawatan barang dari debu, rayap, atau keretakan juga makin besar.
  • Barang Rawan Rusak dan Kedaluwarsa: Barang yang disimpan terlalu lama berisiko rusak tertimpa barang lain, berdebu, atau melewati masa kadaluarsa (khususnya untuk produk makanan, minuman, dan kosmetik).
  • Gudang Berantakan dan Menurunkan Efisiensi Operasional Bisnis: Gudang yang terlalu penuh membuat karyawan susah mencari barang saat ada pesanan datang, sehingga proses pengiriman jadi lambat.
Related Post  Apa itu Sistem Point of Sale? Fungsi, Cara Kerja, dan Jenisnya

Bagaimana Cara Mencegah Overstock

Mencegah overstock bukan berarti harus menyimpan stok sesedikit mungkin. Tujuannya adalah menjaga jumlah persediaan agar sesuai dengan kebutuhan bisnis.

1. Gunakan Data Penjualan sebagai Dasar Pembelian

Sebelum membeli barang, periksa penjualan sebelumnya di laporan penjualan. Lihat produk yang paling banyak terjual, produk yang penjualannya menurun, serta jumlah stok yang masih tersedia.

2. Pantau Produk Fast-Moving dan Slow-Moving

Kelompokkan produk berdasarkan kecepatan penjualannya. Fast-moving adalah produk yang cepat terjual, sedangkan slow-moving adalah produk yang membutuhkan waktu lebih lama untuk terjual.

Produk slow-moving perlu diperhatikan agar tidak terus dibeli dalam jumlah besar. Jika stok sudah terlalu banyak, bisnis dapat mempertimbangkan promosi, bundling, atau diskon untuk membantu mengurangi penumpukan.

3. Tentukan Batas Stok

Tetapkan jumlah minimum dan maksimum stok sesuai kebutuhan bisnis. Dengan begitu, pembelian tidak dilakukan hanya karena merasa stok sudah sedikit.

4. Lakukan Stock Opname Secara Berkala

Stock opname dilakukan dengan mencocokkan jumlah barang secara fisik dengan catatan persediaan. Misalnya, catatan menunjukkan terdapat 100 unit produk, tetapi setelah dihitung hanya ada 95 unit. Selisih tersebut perlu diperiksa agar data stok kembali sesuai dengan kondisi sebenarnya.

5. Pantau Pergerakan Persediaan

Selain mengetahui jumlah stok, perhatikan juga barang yang masuk dan keluar. Dari data tersebut, bisnis dapat melihat produk mana yang cepat bergerak, produk yang mulai menumpuk, dan kapan terakhir kali barang mengalami transaksi.

Memantau pergerakan persediaan secara manual tentunya akan memakan waktu lama dan terkadang hasil pemantauannya tidak akurat, dengan aplikasi stok barang Accounting+ anda dapat memantau pergerakan persediaan lebih mudah melalui fitur pengelolaan gudang, mutasi persediaan, serta riwayat pergerakan persediaan.

Related Post  3 Kesalahan Pencatatan Keuangan Toko Bangunan Bikin Bangkrut (+ Solusi)

Kesimpulan

Overstock terjadi ketika jumlah persediaan lebih banyak daripada kebutuhan atau kemampuan penjualan. Kondisi ini dapat membuat modal tertahan dan meningkatkan risiko barang rusak atau tidak terjual. Untuk mencegahnya, bisnis perlu  memantau pergerakan stok, melakukan stock opname, serta menentukan pembelian berdasarkan kebutuhan. Pengelolaan stok yang teratur membantu bisnis menjaga persediaan tetap terkendali sekaligus membuat penggunaan modal menjadi lebih efisien.

Baca Juga: 20 Ide Usaha yang Menjanjikan dengan Modal Kecil Untuk Pemula