
Key Takeaways:
- Perusahaan dagang membeli barang untuk dijual kembali tanpa melalui proses produksi.
- Perusahaan manufaktur mengolah bahan baku menjadi barang jadi sehingga memiliki tahapan pencatatan yang lebih kompleks.
- Pencatatan akuntansi perlu disesuaikan dengan alur bisnis agar persediaan, biaya, HPP, dan laporan keuangan dapat tercatat dengan tepat.
Perusahaan dagang dan manufaktur sama-sama menjual produk kepada pelanggan. Namun, proses bisnis di baliknya berbeda. Perusahaan dagang membeli barang dari pemasok untuk dijual kembali, sedangkan perusahaan manufaktur mengolah bahan baku menjadi produk jadi.
Perbedaan tersebut tidak hanya terlihat dari kegiatan operasional, tetapi juga mempengaruhi transaksi yang muncul dan cara pencatatannya dalam akuntansi. Lalu, apa saja perbedaan perusahaan dagang dan manufaktur?
Apa Itu Perusahaan Dagang?
Perusahaan dagang adalah bisnis yang membeli barang dari pemasok kemudian menjualnya kembali kepada pelanggan tanpa melalui proses produksi. Contohnya seperti grosir sembako, toko bangunan atau toko elektronik.
Secara sederhana, alurnya adalah:
Pemasok → Pembelian Barang → Persediaan → Penjualan → Pelanggan
Karena tidak melakukan proses produksi, perusahaan dagang umumnya tidak perlu mencatat biaya produksi seperti tenaga kerja langsung atau overhead pabrik.
Apa Itu Perusahaan Manufaktur?
Berbeda dengan perusahaan dagang, perusahaan manufaktur melakukan proses pengolahan untuk mengubah bahan baku menjadi barang jadi yang siap dijual. Contohnya adalah usaha konveksi yang mengolah kain menjadi pakaian, atau produsen furniture yang mengolah kayu menjadi meja dan kursi.
Alurnya dapat digambarkan sebagai:
Bahan Baku → Proses Produksi → Barang Dalam Proses → Barang Jadi → Penjualan
Karena melewati proses produksi, pencatatan akuntansi perusahaan manufaktur juga perlu memperhatikan biaya yang muncul selama proses tersebut. Perusahaan manufaktur umumnya memiliki persediaan bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi.
Perbedaan Perusahaan Dagang dan Manufaktur
Agar lebih mudah dipahami, berikut perbandingannya:
| Aspek | Perusahaan Dagang | Perusahaan Manufaktur |
| Kegiatan utama | Membeli dan menjual kembali barang | Mengolah bahan baku menjadi barang jadi |
| Proses produksi | Tidak ada | Ada |
| Persediaan | Persediaan barang dagang | Bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi |
| Biaya utama | Biaya pembelian barang | Bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead produksi |
| HPP | Berdasarkan biaya perolehan barang yang terjual | Berkaitan dengan biaya produksi dan barang jadi yang terjual |
| Contoh | Distributor, grosir, toko retail | Konveksi, produsen makanan, furniture |
Dari tabel tersebut terlihat bahwa perbedaan paling besar terletak pada proses produksi dan biaya yang harus dicatat.
Bagaimana Pencatatan Akuntansi Perusahaan Dagang?
Pencatatan perusahaan dagang berfokus pada pembelian, penjualan, persediaan, dan HPP.
Pada perusahaan dagang, barang yang dibeli dari pemasok langsung menjadi persediaan barang dagang. Ketika barang tersebut dijual, nilai barang yang terjual kemudian menjadi Harga Pokok Penjualan (HPP).
1. Mencatat pembelian: Debit Persediaan, Kredit Kas/Utang
2. Mencatat penjualan: Debit Kas/Piutang, Kredit Penjualan
2. Mencatat HPP: Debit HPP, Kredit Persediaan
Bagaimana Pencatatan Akuntansi Perusahaan Manufaktur?
Pada perusahaan manufaktur, alurnya lebih panjang karena perusahaan tidak langsung menjual barang yang dibeli. Bahan yang dibeli harus melalui proses produksi terlebih dahulu.
1. Mencatat pembelian bahan baku: Debit Persediaan Bahan Baku, Kredit Kas/Utang Usaha
2. Pemakaian bahan baku: Debit Barang Dalam Proses (WIP), Kredit Persediaan Bahan Baku
3. Pencatatan biaya produksi: Debit Barang Dalam Proses (WIP), Kredit Utang Gaji/Kas dan akun biaya terkait
4. Produksi selesai: Debit Persediaan Barang Jadi, Kredit Barang Dalam Proses (WIP)
5. Penjualan barang jadi:
Debit Kas/Piutang Usaha, Kredit Penjualan
Debit Harga Pokok Penjualan (HPP), Kredit Persediaan Barang Jadi
Saat barang jadi terjual, dicatat pendapatan penjualan sekaligus HPP dari barang yang terjual.
Apa Dampaknya pada Laporan Keuangan?
Pada perusahaan dagang, salah satu komponen penting adalah persediaan barang dagang dan HPP. HPP digunakan untuk mengetahui biaya barang yang telah terjual dan membantu menghitung laba kotor. Sementara itu, perusahaan manufaktur perlu memperhatikan biaya produksi dan beberapa tahap persediaan sebelum sampai pada HPP penjualan.
Setiap bisnis memiliki transaksi dan alur operasional yang berbeda. Karena itu, pencatatannya juga tidak bisa disamakan begitu saja.
Perusahaan dagang perlu memastikan transaksi pembelian, penjualan, persediaan, piutang, utang, dan HPP tercatat dengan baik. Sementara perusahaan manufaktur perlu menambahkan pencatatan yang berkaitan dengan bahan baku, proses produksi, barang jadi, serta biaya produksi.
Semakin banyak transaksi yang terjadi, pencatatan manual juga semakin berisiko menimbulkan kesalahan atau membuat data sulit ditelusuri. Software akuntansi Accounting+ menyediakan fitur untuk membantu pencatatan transaksi pembelian, penjualan, persediaan, hingga laporan keuangan. Dengan pencatatan yang lebih terorganisir, pemilik bisnis dapat lebih mudah melihat kondisi transaksi dan persediaan tanpa harus merekap seluruh data secara manual.
Kesimpulan
Perusahaan dagang dan manufaktur memiliki alur bisnis yang berbeda sehingga pencatatan akuntansinya juga tidak sama. Perusahaan dagang berfokus pada pembelian, persediaan, penjualan, dan HPP, sedangkan perusahaan manufaktur perlu mencatat bahan baku, proses produksi, barang jadi, hingga HPP. Memahami perbedaan tersebut membantu bisnis mencatat setiap transaksi dengan lebih tepat dan menghasilkan laporan keuangan yang lebih akurat.
Baca Juga: 20 Ide Usaha yang Menjanjikan dengan Modal Kecil Untuk Pemula



