
Key Takeaways:
- WIP adalah produk yang masih dalam proses produksi, belum menjadi barang jadi, tetapi sudah menyerap biaya produksi.
- Nilai WIP terdiri dari bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik sesuai tingkat penyelesaian produk, sehingga pencatatannya penting untuk menghitung HPP secara akurat.
- Pengelolaan WIP yang baik membutuhkan pemantauan alur persediaan, pemisahan bahan baku/WIP/barang jadi, serta pencatatan terintegrasi untuk mengurangi kesalahan dan meningkatkan efisiensi produksi.
Pernah melihat produk yang sudah masuk proses produksi, tetapi belum selesai dan belum bisa dijual? Misalnya, kain sudah dipotong dan dijahit, tetapi belum melewati proses finishing, atau adonan makanan sudah diolah, tetapi masih menunggu proses pemanggangan dan pengemasan. Dalam perusahaan manufaktur, kondisi tersebut disebut sebagai Work In Process (WIP) atau barang dalam proses.
WIP menjadi bagian penting dalam pengelolaan persediaan dan biaya produksi. Jika pencatatannya tidak tepat, perusahaan bisa kesulitan mengetahui berapa biaya yang sudah dikeluarkan, berapa nilai persediaan yang masih dalam proses, hingga berapa biaya sebenarnya untuk menghasilkan produk.
Apa Itu Work In Process?
Work In Process (WIP) adalah produk yang sudah masuk ke dalam proses produksi, tetapi belum selesai sepenuhnya menjadi barang jadi. Sederhananya, WIP adalah barang setengah jadi yang masih dikerjakan.
Contohnya, sebuah usaha konveksi memproduksi 1.000 kaus. Dari jumlah tersebut, 700 kaus sudah selesai dan siap dijual, sedangkan 300 kaus masih dalam proses jahit dan finishing. Maka, 300 kaus tersebut termasuk Work In Process.
Mengapa Work In Process Penting?
Barang yang masih dalam proses atau belum selesai perlu dicatat secara khusus, karena meskipun belum bisa dijual, WIP sudah menyerap biaya.
Saat proses produksi berjalan, perusahaan bisa sudah mengeluarkan biaya untuk membeli bahan baku, membayar tenaga kerja, menggunakan listrik, menjalankan mesin, hingga membayar biaya produksi lainnya. Sehingga penting untuk mengelola WIP karena perubahan nilai WIP dapat mempengaruhi Harga Pokok Produksi.
Pengelolaan dan pencatatan WIP membantu perusahaan untuk:
- mengetahui nilai produk yang masih dalam proses;
- menghitung Harga Pokok Produksi dengan lebih tepat;
- mengetahui biaya yang sudah dikeluarkan dalam proses produksi;
- memantau efisiensi kegiatan produksi; dan
- menyusun laporan keuangan dengan lebih akurat.
Apa Saja yang Membentuk Nilai WIP?
Nilai WIP berasal dari biaya produksi yang sudah dikeluarkan untuk produk yang masih dalam proses. Secara umum, biaya tersebut terdiri dari:
1. Biaya Bahan Baku
Bahan yang digunakan secara langsung untuk membuat produk. Contohnya kain untuk pakaian, kayu untuk meja, atau tepung untuk membuat roti.
2. Biaya Tenaga Kerja Langsung
Biaya untuk tenaga kerja yang secara langsung mengerjakan produk. Misalnya upah penjahit, operator mesin, atau pekerja yang merakit produk.
3. Biaya Overhead Pabrik
Biaya produksi selain bahan baku dan tenaga kerja langsung. Contohnya listrik mesin, penyusutan mesin, bahan penolong, dan biaya pemeliharaan.
Contoh Kasus dan Perhitungan WIP
Sebuah UMKM Furniture memproduksi 100 meja dalam satu bulan. Pada akhir bulan, ternyata:
- 80 meja sudah selesai dan menjadi barang jadi
- 20 meja masih dalam proses produksi
Dengan tingkat penyelesaian:
- bahan baku sudah digunakan 100%
- proses pengerjaan tenaga kerja 50%
- overhead yang sudah digunakan 50%
Sedangkan biaya produksi 100 meja sebesar Rp18.000.000 dengan rincian sebagai berikut:
- Biaya bahan baku = Rp10.000.000
- Biaya Tenaga Kerja Langsung = Rp5.000.000
- Biaya Overhead Pabrik = Rp3.000.000
Maka biaya yang melekat pada 20 meja yang masih dalam proses dapat dihitung sebagai berikut:
Bahan baku Rp10.000.000 × (20/100) × 100% = Rp2.000.000
Tenaga kerja langsung Rp5.000.000 × (20/100) × 50% = Rp500.000
Overhead pabrik Rp3.000.000 × (20/100) × 50% = Rp300.000
Rp2.000.000 + Rp500.000 + Rp300.000 = Rp2.800.000
Artinya, dari total biaya produksi Rp18.000.000, sebesar Rp2.800.000 masih melekat pada 20 meja yang belum selesai dan sisanya merupakan biaya yang telah melekat pada produk yang sudah selesai.
Hubungan WIP dengan Harga Pokok Produksi?
Produk yang belum selesai pada akhir bulan tidak langsung dianggap sebagai produk jadi. Nilai biayanya akan tetap dicatat sebagai WIP akhir dan kemudian menjadi WIP awal pada bulan berikutnya.
Melanjutkan contoh sebelumnya, 20 meja yang masih dalam proses dengan nilai WIP sebesar Rp2.800.000 menjadi WIP awal di bulan selanjutnya.
Misalnya, pada bulan selanjutnya perusahaan mengeluarkan biaya tambahan untuk menyelesaikan 20 meja tersebut sebesar Rp2.000.000 dengan rincian sebagai berikut:
- Bahan baku = Rp1.000.000
- Tenaga kerja langsung = Rp700.000
- Overhead pabrik = Rp300.000
Maka total biaya yang melekat pada 20 meja tersebut menjadi:
WIP awal + biaya produksi tambahan
Rp2.800.000 + Rp2.000.000 = Rp4.800.000
Setelah proses produksi selesai, 20 meja tersebut dapat dipindahkan dari WIP menjadi barang jadi dengan harga pokok produksi sebesar Rp4.800.000.
Bagaimana Cara Mengelola Work In Process?
Menghitung WIP saja belum cukup. Perusahaan juga perlu memantau pergerakannya agar produk tidak terlalu lama tertahan di proses produksi.
1. Catat Perpindahan Persediaan
Catat ketika bahan baku digunakan, masuk ke proses produksi, hingga berubah menjadi barang jadi. Dengan begitu, jumlah persediaan dapat lebih mudah ditelusuri.
2. Pantau Produk yang Masih Dalam Proses
Periksa produk yang belum selesai secara berkala. Jika ada produk yang terlalu lama berada di satu tahap, cari tahu penyebabnya. Bisa jadi masalahnya berasal dari keterlambatan bahan baku, kapasitas mesin, tenaga kerja, atau proses produksi yang kurang efisien.
3. Pisahkan Bahan Baku, WIP, dan Barang Jadi
Jangan mencampurkan ketiganya dalam satu pencatatan. Pemisahan ini membantu pemilik usaha mengetahui posisi setiap persediaan.
4. Gunakan Pencatatan yang Terintegrasi
Ketika jumlah transaksi dan persediaan mulai bertambah, akan melelahkan jika pencatatan masih dilakukan secara manual. Misalnya, bahan baku masuk dari pembelian, kemudian digunakan untuk produksi, berpindah menjadi produk dalam proses, hingga akhirnya menjadi barang jadi. Jika setiap perubahan dicatat secara terpisah, proses pengecekan dapat memakan waktu dan berisiko salah.
Dengan aplikasi manufaktur Accounting+, pencatatan persediaan menjadi lebih mudah dan terorganisir melalui fitur pengelolaan gudang, mutasi persediaan, serta riwayat pergerakan persediaan.
Kesimpulan
Memahami dan mengelola Work In Process (WIP) adalah kunci utama bagi pemilik usaha manufaktur untuk menjaga keakuratan HPP, menekan pemborosan bahan baku, dan menyajikan laporan keuangan yang sehat.
Baca Juga: Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur: Jenis, Komponen & Contoh Lengkap



